Kemarilah, nona. Aku punya sedikit cerita. Kau boleh bersandar di bahuku. Dan biarkan jemariku membelah lembut rambutmu.
Cukup dengarkan saja.
Begini ceritanya..
"Pada suatu pagi yang biasa-biasa saja, seorang Pria melakukan aktivitasnya, yang biasa-biasa saja. Ia bekerja sedari matahari terbit, hingga langit senja ranum. Namun sore itu ada yang tidak biasa. Ia tidak frustasi oleh pekerjaannya. Satu, Ia menyelesaikan pekerjaannya 1 jam lebih awal. Dua, rintik hujan jatuh membasahi jalanan, menempel pada kaca di sebelah kubikelnya, di lantai 15.
Ia tersadar. Ada sesuatu yang tidak biasanya hinggap di kepalanya. Ia merasakan sebuah rindu. Agustus 20, itu tanggal hari ini. Entahlah, Ia mengaitkannya dengan puisi Sapardi, Hujan di Bulan Juni. Mungkin memang rindu-rindu yang ia rasakan telah dirahasiakan oleh hujan di bulan Juni pada pohon berbunga itu. Mungkin jejak-jejak keraguannya memang sudah dihapus oleh hujan di bulan Juni. Sudah 2 bulan. Ia tak pernah merasakan hal yang lebih melankolis daripada yang dirasakannya sekarang.
Kemudian lelaki itu bergegas turun, Ia duduk di halte setelah membelah guyuran hujan. Tidak lama, bus yang ditunggunya tiba. Ia duduk tepat di samping jendela. Membiarkan kenangan-kenangan yang pernah terekam di kepalanya direfleksikan kembali oleh kaca jendela."
Kau tau kemana lelaki itu? Sst. Ya, Ia sedang memeluk penuh kasih sayang seorang wanita cantik, yang kini telah membisu, tertidur dengan pulas. Mempersembahkan sebuah cerita yang tidak ada apa-apanya sebagai persembahan ulang tahun terakhir. Ulang tahun terakhir seorang wanita yang umurnya tidak dirahasiakan Tuhan kepada seorang dokter.
Selamat ulang tahun, sayang. Tuhan pasti punya kado yang jauh lebih spesial dariku di sana.
Showing posts with label #fiksi. Show all posts
Showing posts with label #fiksi. Show all posts
Friday, 19 July 2013
Thursday, 27 June 2013
Delusi
Jam ke-4, cangkir ke-3.
Aku masih berharap punggungmu berbalik.
Aku terus menunggu, kau tak kunjung datang.
Antitesis sempurna.
Disleksia.
Aku tak pernah bisa mendengar hatimu.
Aku tak bisa membaca gerikmu.
Dan kau bahkan tidak pernah menulis yang kubaca.
Adagio.
Jarum jam seakan tidak pernah berputar.
Aku tetap di sini, menyeruput cangkir kegelisahan.
Menanti yang bahkan tidak pernah ada.
Kau berdelusi, nona.
Aku bergegas bangkit, kereta sudah tiba.
Aku masih berharap punggungmu berbalik.
Aku terus menunggu, kau tak kunjung datang.
Antitesis sempurna.
Disleksia.
Aku tak pernah bisa mendengar hatimu.
Aku tak bisa membaca gerikmu.
Dan kau bahkan tidak pernah menulis yang kubaca.
Adagio.
Jarum jam seakan tidak pernah berputar.
Aku tetap di sini, menyeruput cangkir kegelisahan.
Menanti yang bahkan tidak pernah ada.
Kau berdelusi, nona.
Aku bergegas bangkit, kereta sudah tiba.
Wednesday, 26 June 2013
Nona Balerina; Resah
“Aku rindu. Entah pada apa. Aku
merindukan sesuatu”, gadis itu bercengkrama dengan tembok kamarnya. Ditemani
kupu-kupu dalam toples kaca. Hujan masih belum lelah turun. Hatinya pun masih
sibuk berseteru, membawa hawa muram pada dinding-dinding ruangan.
“Aku lelah”, Ia kembali berbisik.
Ia bangkit, menjinjitkan kaki kiri, on pointe. Lalu mengangkat kaki kanan nya dan juga kedua
tangannya. The Nutcracker. Berputar. Lalu Ia
melompat, the grand jet.
Dihempaskannya toples kaca kesayangannya. Perih. Ia kembali berbaring. Matanya
berpacu dengan langit menitikkan air. Isak tangis nya berpacu riuh dengan rintikan hujan.
Kawanan Bintang di langit masih belum mampu mengerucuti kesedihannya.
2 bait pengantar sebuah cerita yang tidak selesai.
Friday, 29 March 2013
Tuan Bertuksedo
Tuan bertuksedo hitam gemar berkelana. Mencari sesuatu entah apa.
Menjamahi satu per-satu kereta. Kemudian pulang ke stasiun yang sama.
Sampai suatu ketika tuan bertuksedo hitam lupa jalan pulang.
Tidak ada pesan yang singgah.
Tuan bertuksedo hitam rindu rumah yang sudah jauh entah dimana.
Kini Ia hanya bisa mengirim doa penuh kerinduan, kepada entah siapa.
Menjamahi satu per-satu kereta. Kemudian pulang ke stasiun yang sama.
Sampai suatu ketika tuan bertuksedo hitam lupa jalan pulang.
Tidak ada pesan yang singgah.
Tuan bertuksedo hitam rindu rumah yang sudah jauh entah dimana.
Kini Ia hanya bisa mengirim doa penuh kerinduan, kepada entah siapa.
Balerina Muram
Ia hanya lelah menari. Lelah mengikuti alunan nada yang kencang dan turun dalam seketika.
Nona balerina tidak tau harus mengadu pada apa.
Ia hanya lelah. Nona balerina berlari, menuju entah apa. Ia hanya ingin pergi jauh.
Nona balerina menengguk segelas pilu, menanamkan sebuah bibit kebencian pada sebuah rindu.
Pada saat langit diruntuhi kerinduan,
Nona balerina hanya bisa menunggu di stasiun tanpa bisa berbuat apa-apa. Tanpa berharap apa-apa.
Nona balerina tidak mampu membenci, Ia hanya bisa terus menari dibawah alunan musik muram menyayat nadi.
Nona balerina tidak tau harus mengadu pada apa.
Ia hanya lelah. Nona balerina berlari, menuju entah apa. Ia hanya ingin pergi jauh.
Nona balerina menengguk segelas pilu, menanamkan sebuah bibit kebencian pada sebuah rindu.
Pada saat langit diruntuhi kerinduan,
Nona balerina hanya bisa menunggu di stasiun tanpa bisa berbuat apa-apa. Tanpa berharap apa-apa.
Nona balerina tidak mampu membenci, Ia hanya bisa terus menari dibawah alunan musik muram menyayat nadi.
Monday, 18 June 2012
Seperti Pagi Pagi Sebelumnya
Matahari pagi menghangatkan mataku, menggelitik kelopak mata ini untuk bangkit dari pejam.
Sepertinya aku bangun terlalu siang untuk sebuah pagi. Namun masih seperti biasa, kau sudah tidak berbaring disampingku. Tetap ada secangkir teh hijau yang menggoda dengan tak sabar ingin segera membasahi kerongkonganku. Juga ada sepiring roti berlapis coklat yang sedari tadi menemani cangkir teh hijau yang menantiku untuk singgah.
Pagi ini memang seperti pagi pagi sebelumnya. Kau masih tetap anggun dengan rambut yang dikuncir itu, memberimu aura seorang wanita hebat.
Tetap cerewet dengan hingar bingar tetangga. Menertawai kelakuan si tukang penjual sayur keliling. Menatapku dengan tatapan aneh ketika aku tetap tidak membaca isi harian surat kabar yang tidak kuhentikan untuk berlangganan, aku merasa muak dengan mereka yang meributkan hal yang itu itu saja. Kemudian mendebatkan lagu pilihanku yang kuputar di gramophone tua di sudut ruangan. Kau pada Doris Day, dan aku tetap enggan berpaling dari Edith Piaf. Namun tetap saja kita berdansa penuh suka mengikuti irama yang menggema.
Lalu kita tiba pada momen favorit kita berdua, yang kemudian kita kutuk bersama. Menyusuri pinggiran kota untuk mengantarmu pada sibukmu. Menertawai hari. Membunuh waktu yang berjalan dengan angkuh. Dan ketika lelah bersuara kita menyusuri etalase etalase pertokoan kota yang begitu megah ini dalam sebuah diam. Tapi tetap, ada senyum indah di bibirmu. Matamu bersinar dengan terangnya.
Kita tiba di ujung jalan, berbelok ke sebuah gang sempit.
Aku mengutuk pilu ketika harus melewati gang sempit yang dibaui mawar. Hatiku penuh bilur, seperti dicambuki terus menerus. Aku mengutuki diri untuk harus melepasmu lagi. Aku seolah ingin meneriaki Tuhan, "mengapa begitu cepat, Tuhan?!". Aku tau itu percuma, tapi aku benar benar belum siap. Aku tidak siap berdansa dengan sebuah kesendirian. Kembali melacuri diriku pada sebuah rindu.
"jaga dirimu baik baik, jangan menuangkan terlalu banyak gula pada tehmu", bisikmu ke telingaku. Aku hanya menjawab dengan sebuah senyum.
Dan kemudian kau menghilang di persimpangan gang, menuju nisanmu, seperti pagi pagi sebelumnya.
Sunday, 22 April 2012
menyapa senja
sore ini Tuhan menegurku melalui sebuah senja.
Ia menunjukkan kuasanya,
Ia lukis langit sesukanya,
oranye dan biru menari nari diatas sana.
indah, memang.
Tuhan seakan berkata, "dunia ini tidak sepenuhnya muram. apa lagi yg kau ragukan."
kemudian aku hanya tertunduk malu.
kemudian kusapa senja yang indah itu.
ia lalu perlahan lahan pergi,
temaram,
kemudian gelap menghiasi bumi.
lalu aku tanamkan didalam hatiku, "pasti ada senja senja yg lain nantinya".
salam dariku, pengagummu, Senja
Ia menunjukkan kuasanya,
Ia lukis langit sesukanya,
oranye dan biru menari nari diatas sana.
indah, memang.
Tuhan seakan berkata, "dunia ini tidak sepenuhnya muram. apa lagi yg kau ragukan."
kemudian aku hanya tertunduk malu.
kemudian kusapa senja yang indah itu.
ia lalu perlahan lahan pergi,
temaram,
kemudian gelap menghiasi bumi.
lalu aku tanamkan didalam hatiku, "pasti ada senja senja yg lain nantinya".
salam dariku, pengagummu, Senja
Monday, 12 March 2012
Friday, 9 March 2012
nikahi pikiranku ini
dalam diam, aku terus menyimak
dalam diam, aku menyuntikkan sifatmu ke ingatanku
dalam diam, aku menghafal goresan paras wajahmu
dalam diam, aku merekam lekuk tubuhmu
dalam diam aku memandangi secangkir teh hangat yg mulai dingin. kantung teh semakin memekatkan kolamnya.
aku melihatmu dalam cangkirku.
wanita bergaunkan keanggunan.
kau menjalankan plot yg luar biasa,
melukis senja mu sendiri diatas kanvas,
menyenandungkan nada nada rumit yg indah,
menyusun puzzle aksara kaku menjadi sajak yg elegan,
menyatukan diagonal diagonal kehidupan untuk dicerna dengan mudah.
kamu, wanita anggun dalam cangkirku
menikahlah dengan pikiranku,
kau dengan rumitmu, aku dengan tenangku,
cumbui fantasiku ini hingga menghasilkan kreasi.
dan kelak kita akan menikmati cangkir kita bersama.
dalam diam, aku menyuntikkan sifatmu ke ingatanku
dalam diam, aku menghafal goresan paras wajahmu
dalam diam, aku merekam lekuk tubuhmu
dalam diam aku memandangi secangkir teh hangat yg mulai dingin. kantung teh semakin memekatkan kolamnya.
aku melihatmu dalam cangkirku.
wanita bergaunkan keanggunan.
kau menjalankan plot yg luar biasa,
melukis senja mu sendiri diatas kanvas,
menyenandungkan nada nada rumit yg indah,
menyusun puzzle aksara kaku menjadi sajak yg elegan,
menyatukan diagonal diagonal kehidupan untuk dicerna dengan mudah.
kamu, wanita anggun dalam cangkirku
menikahlah dengan pikiranku,
kau dengan rumitmu, aku dengan tenangku,
cumbui fantasiku ini hingga menghasilkan kreasi.
dan kelak kita akan menikmati cangkir kita bersama.
Thursday, 8 March 2012
tabu bertamu
pagi tabu,
saat kelopak mata seakan penuh debu
otak dan hati masih membisu
tak ada hal baru
pagi tabu,
saat surat kabar tak lebih dari calon penghuni keranjang sampah
secangkir teh yg tidak bersahabat
dan perut meneriaki tuannya, mengemis sepotong roti
aneh, ketika karakter protagonis diberkahi jiwa antagonis
kemudian skenario berubah tanpa sebab
si antagonis menebar nelangsa ke protagonis
memaksa menjalani skenario muram
tabu, memberi bisu, menebar suram
saat kelopak mata seakan penuh debu
otak dan hati masih membisu
tak ada hal baru
pagi tabu,
saat surat kabar tak lebih dari calon penghuni keranjang sampah
secangkir teh yg tidak bersahabat
dan perut meneriaki tuannya, mengemis sepotong roti
aneh, ketika karakter protagonis diberkahi jiwa antagonis
kemudian skenario berubah tanpa sebab
si antagonis menebar nelangsa ke protagonis
memaksa menjalani skenario muram
tabu, memberi bisu, menebar suram
Thursday, 9 February 2012
day #27 - dear, Afrodit..
dear afrodit,
kutitipkan semua rangkaian aksara yg aku tulis ini, sampaikan kepadanya, Ares.
tanamkan benih cinta ke dalam dirinya, seharusnya itu bukan hal sulit bagimu, sang dewi cinta.kau pasti setuju denganku, sebagai sosok yg enggan akan sebuah kekerasan. kita lebih memilih cinta.
lihatlah ke bawah sini,
derap langkah sepatu boots berat seperti menjadi intro dari nada kematian, dengan ledakan senjata sebagai reff nya. wangi mesiu bercampur dengan darah menjadi danur yg mewangi ke penjuru ruangan.
kejam.
aku yakin, cinta dapat mengubur sifat kejamnya.
aku memohon, afrodit. hanya kau yg bisa membantu merajut sesuatu yg begitu mahal disini, kedamaian.
jangan sampai zeus tau perihal surat ini.
salam dari bumi, dengan penuh kegelisahan
kutitipkan semua rangkaian aksara yg aku tulis ini, sampaikan kepadanya, Ares.
tanamkan benih cinta ke dalam dirinya, seharusnya itu bukan hal sulit bagimu, sang dewi cinta.kau pasti setuju denganku, sebagai sosok yg enggan akan sebuah kekerasan. kita lebih memilih cinta.
lihatlah ke bawah sini,
derap langkah sepatu boots berat seperti menjadi intro dari nada kematian, dengan ledakan senjata sebagai reff nya. wangi mesiu bercampur dengan darah menjadi danur yg mewangi ke penjuru ruangan.
kejam.
aku yakin, cinta dapat mengubur sifat kejamnya.
aku memohon, afrodit. hanya kau yg bisa membantu merajut sesuatu yg begitu mahal disini, kedamaian.
jangan sampai zeus tau perihal surat ini.
salam dari bumi, dengan penuh kegelisahan
Tuesday, 31 January 2012
day #18 - Terlalu Polos Untuk Mengerti
aku tidak pernah begitu bersemangat memasuki pagar sekolah. terlebih lagi jika harus mendengar lantunan nada bel masuk pukul tujuh. apa boleh buat, aku lalui saja semuanya dengan semangat (yang terpaksa).
aku yg di hari itu benar benar tidak mengenal bagaimana tata krama bertamu ke halte seseorang. yg aku tau hanya duduk sambil berteduh dibawah atapnya, dihiasi aroma tanah yg dibasahi hujan. kemudian melihat indahnya pelangi. bus pun datang, aku menaikinya tanpa ada pikiran lain. hanya seperti sebelum aku memasuki halte, tanpa suatu perasaan.
aku beranjak, turun dari bus ke suatu taman. terlalu ramai. aku tidak begitu menyukai sesuatu yg terlalu ramai. aku hanya berjalan melewatinya. tidak ada yg peduli saat itu.
aku berputar haluan, mendatangi sebuah coffee shop. benar saja, secangkir kafein membuatku lebih merasakan hidup. aku tau banyak. belajar banyak. tau sebuah tata krama menduduki halte. mengerti nilai seni sebuah taman.
aku juga tidak bisa sesukanya kembali lagi kesana. ah, cinta terkadang memang rumit teman. dan aku, ataukah kita, memang terlalu polos untuk memahami seluk beluknya.
*surat cinta untuk pencinta masa kecil yg semu*
aku yg di hari itu benar benar tidak mengenal bagaimana tata krama bertamu ke halte seseorang. yg aku tau hanya duduk sambil berteduh dibawah atapnya, dihiasi aroma tanah yg dibasahi hujan. kemudian melihat indahnya pelangi. bus pun datang, aku menaikinya tanpa ada pikiran lain. hanya seperti sebelum aku memasuki halte, tanpa suatu perasaan.
aku beranjak, turun dari bus ke suatu taman. terlalu ramai. aku tidak begitu menyukai sesuatu yg terlalu ramai. aku hanya berjalan melewatinya. tidak ada yg peduli saat itu.
aku berputar haluan, mendatangi sebuah coffee shop. benar saja, secangkir kafein membuatku lebih merasakan hidup. aku tau banyak. belajar banyak. tau sebuah tata krama menduduki halte. mengerti nilai seni sebuah taman.
aku juga tidak bisa sesukanya kembali lagi kesana. ah, cinta terkadang memang rumit teman. dan aku, ataukah kita, memang terlalu polos untuk memahami seluk beluknya.
*surat cinta untuk pencinta masa kecil yg semu*
Thursday, 19 January 2012
Day #6 - Untukmu, Hangat
hai kau, yg egois.
ini aku tulis surat cinta untukmu. atas dasar apa?atas dasar sebuah tali yg bernama keakraban.
kita dulu memang sempat akur, begitu dingin untuk saling memahami. kau menikmati peranmu, dan aku menikmati peranku. kau tidak pernah complain ketika aku lebih sering muncul. begitu pun aku, yg mempersilahkan dirimu untuk show off. kita benar benar menikmati waktu yg ada.
namun musim berputar. ego mu mengemuka. ke-egoisanmu benar benar semakin memuakkan. kau benar benar keras. enggan mengalah, benar benar tidak seperti yg aku kenal sebelumnya.
padahal aku benar benar menikmati berbagi waktu denganmu. aku sebagai pagi, kau sebagai siang, bahkan hingga senja. atau sebaliknya, kau sebagai pagi, aku mengiringi siang hingga senja, dan bahkan kau mempersilahkan ku menjadi sebuah malam yg mengiringi terlelapnya orang orang.
kenapa kita harus terus terusan seperti ini?kapan kau akan mengakui ketika orang orang sedang tidak membutuhkan dirimu?tidakkah kau sadar mereka benar benar mengeluh tentang dirimu?
padahal aku benar benar merindukan berbagi waktu denganmu. dengan dinginku, dan juga hangatmu. ya mungkin kita memang tidak akan pernah bisa benar benar berseteru. setelah sempat tidak enakan, kita selalu berbaikan setelahnya. ya, mungkin kita memang benar benar akrab. keakraban memang harus benar benar saling memahami kan?
kita akrab, dalam berbagi.
tidak seperti surat cinta?sudahlah.
ini sesungguhnya surat cinta untukmu, sang pemberi hangat, Matahari.
dari teman akrab yg mengagumimu, Hujan.
ini aku tulis surat cinta untukmu. atas dasar apa?atas dasar sebuah tali yg bernama keakraban.
kita dulu memang sempat akur, begitu dingin untuk saling memahami. kau menikmati peranmu, dan aku menikmati peranku. kau tidak pernah complain ketika aku lebih sering muncul. begitu pun aku, yg mempersilahkan dirimu untuk show off. kita benar benar menikmati waktu yg ada.
namun musim berputar. ego mu mengemuka. ke-egoisanmu benar benar semakin memuakkan. kau benar benar keras. enggan mengalah, benar benar tidak seperti yg aku kenal sebelumnya.
padahal aku benar benar menikmati berbagi waktu denganmu. aku sebagai pagi, kau sebagai siang, bahkan hingga senja. atau sebaliknya, kau sebagai pagi, aku mengiringi siang hingga senja, dan bahkan kau mempersilahkan ku menjadi sebuah malam yg mengiringi terlelapnya orang orang.
kenapa kita harus terus terusan seperti ini?kapan kau akan mengakui ketika orang orang sedang tidak membutuhkan dirimu?tidakkah kau sadar mereka benar benar mengeluh tentang dirimu?
padahal aku benar benar merindukan berbagi waktu denganmu. dengan dinginku, dan juga hangatmu. ya mungkin kita memang tidak akan pernah bisa benar benar berseteru. setelah sempat tidak enakan, kita selalu berbaikan setelahnya. ya, mungkin kita memang benar benar akrab. keakraban memang harus benar benar saling memahami kan?
kita akrab, dalam berbagi.
tidak seperti surat cinta?sudahlah.
ini sesungguhnya surat cinta untukmu, sang pemberi hangat, Matahari.
dari teman akrab yg mengagumimu, Hujan.
Saturday, 19 November 2011
Aku Pria
"Sempurna. Langkahku semakin tegap. Kumis, jenggot dan bintik bintik bekas mencukur tampak merekat dengan kokoh di wajahku.
Kini aku siap, menjadi orang nomor satu. Menjadi seorang Pangeran.
Aku bukan primadona lagi.
Bahkan kini Primadona kota lah yang akan takluk ke pangkuanku."
Fatamorgana nyata dilaluinya. Ia berjalan tegap penuh wibawa layaknya seorang Tuan bangsawan bermartabat tinggi. Seisi bumi seakan terpaku dengan penampilannya.
Tapi tetap saja Ia masih tak mampu menipu mata jeli satuan pamong praja di malam yang begitu gelap. Kedok terbuka.
Tertangkap, karantina lagi.
imajinasikan dengan lantunan Frau - I'm a Sir
Kini aku siap, menjadi orang nomor satu. Menjadi seorang Pangeran.
Aku bukan primadona lagi.
Bahkan kini Primadona kota lah yang akan takluk ke pangkuanku."
Fatamorgana nyata dilaluinya. Ia berjalan tegap penuh wibawa layaknya seorang Tuan bangsawan bermartabat tinggi. Seisi bumi seakan terpaku dengan penampilannya.
Tapi tetap saja Ia masih tak mampu menipu mata jeli satuan pamong praja di malam yang begitu gelap. Kedok terbuka.
Tertangkap, karantina lagi.
imajinasikan dengan lantunan Frau - I'm a Sir
Friday, 18 November 2011
monolog
"aku tak pernah mengerti apa yang mereka mereka fikirkan. secangkir kopi hangat?senja yg indah?cita cita?citra?bersembunyi dari fakta?apakah mereka masih tetap memikirkannya ketika dentuman detik mulai melambat dan berhenti?ketika senja benar benar memudar, cita cita hanya fatamorgana, citra sudah dikadaluarsai tanggalnya, dan tempat bersembunyi sudah tak mampu menutupi busuknya. untuk apa mereka memikirkannya?untuk apa?apa mereka sekumpulan orang dungu dengan pemikiran yang begitu dangkal?semoga isi otaknya kadaluarsa lebih cepat dari tanggal yg tertulis di balik kemasannya."
obrolan hangat dengan tembok
obrolan hangat dengan tembok
Sunday, 9 October 2011
harapan seorang bocah
follow the street, follow the lampline.
aku terus mengikuti liukan jalanan yg panjang. menikmati gelap malam sambil terus mengikuti cahaya lampu jalanan yang menjadi penunjuk jalan.
terus berjalan, melupakan rasa penat yg membebani pundak.
come to the garden where they all will gather.
ah, tamannya sudah terlihat. aku bisa mengistirahatkan tubuhku sejenak. dunia terlalu keras bagi tubuh kecilku.
loosing conscious, loosing all the daydream.
kesadaranku perlahan melayang layang, hilang. semua angan angan yg ku gambarkan di langit saat bumi begitu terang benderang dan terik perlahan juga menghilang.
the street is empty tonight. we are going to consume all the daylight.
jalanan sudah kosong. tak ada lagi pembaca surat kabar. kini, hanya kami gerombolan bocah yg mengonsumsi terang bulan dan lampu jalanan. di bawah remang lampu jalanan, kami memejamkan mata. berharap ada yg menjadikan kami sosok berharga.
hanya berharap nominal yang lebih besar untuk setiap eksamplar yg kami jual.
hanya berharap bisa menjadi seperti mereka mereka,
sosok seusiaku yg menikmati remang lampu jalanan dengan kain tebal membungkus tubuhnya dan sesosok tinggi besar memberi kasih sayang.
menikmati makanan enak, tidur di kasur empuk.
the street is empty tonight.
saatnya aku tidur, dengan segala harapan.
(mengkonversikan konsep Melancholic Bitch - the street)
aku terus mengikuti liukan jalanan yg panjang. menikmati gelap malam sambil terus mengikuti cahaya lampu jalanan yang menjadi penunjuk jalan.
terus berjalan, melupakan rasa penat yg membebani pundak.
come to the garden where they all will gather.
ah, tamannya sudah terlihat. aku bisa mengistirahatkan tubuhku sejenak. dunia terlalu keras bagi tubuh kecilku.
loosing conscious, loosing all the daydream.
kesadaranku perlahan melayang layang, hilang. semua angan angan yg ku gambarkan di langit saat bumi begitu terang benderang dan terik perlahan juga menghilang.
the street is empty tonight. we are going to consume all the daylight.
jalanan sudah kosong. tak ada lagi pembaca surat kabar. kini, hanya kami gerombolan bocah yg mengonsumsi terang bulan dan lampu jalanan. di bawah remang lampu jalanan, kami memejamkan mata. berharap ada yg menjadikan kami sosok berharga.
hanya berharap nominal yang lebih besar untuk setiap eksamplar yg kami jual.
hanya berharap bisa menjadi seperti mereka mereka,
sosok seusiaku yg menikmati remang lampu jalanan dengan kain tebal membungkus tubuhnya dan sesosok tinggi besar memberi kasih sayang.
menikmati makanan enak, tidur di kasur empuk.
the street is empty tonight.
saatnya aku tidur, dengan segala harapan.
(mengkonversikan konsep Melancholic Bitch - the street)
Saturday, 1 October 2011
lari..
mimpi indah berlalu begitu cepat tanpa jejak. penglihatan tersuramkan detak jantung yang semakin mengencang.
keringat pun mengucur. membasahi raut wajah yang seakan menyimpan banyak pertanyaan.
terbangun dengan perasaan yang hanya merasakan kematian semakin dekat. harus berlari jauh dari komplotan komplotan pembunuh dengan beribu siasat nya.
detak jantung mengencang.
fikiran tak fokus.
keringat tak henti mengucur.
seakan tak ada titik terang yang hadir. semua tampak begitu gelap di tengah gemerlap yang akan muncul di akhir hembusan nafas ini.
nafas tak teratur, fikiran penuh akan tekanan. derap langkah kaki di luar sana semakin menekan. terus menekan, hingga sesak.
haruskah keluar dari kenyataan yang begitu menekan ini?pikiran dicumbui rasa gelisah.
ayolah, aku hanya penumpang. tak perlu tertekan dengan semua ego dan kemunafikan di luar sana.
haruskah aku lari, dan terus berlari dengan semua kegelisahan ini hanya karena ego dan fanatisme dangkal?
melarikan fikiran dengan detak kegelisahan angels and airwaves-anxiety
keringat pun mengucur. membasahi raut wajah yang seakan menyimpan banyak pertanyaan.
terbangun dengan perasaan yang hanya merasakan kematian semakin dekat. harus berlari jauh dari komplotan komplotan pembunuh dengan beribu siasat nya.
detak jantung mengencang.
fikiran tak fokus.
keringat tak henti mengucur.
seakan tak ada titik terang yang hadir. semua tampak begitu gelap di tengah gemerlap yang akan muncul di akhir hembusan nafas ini.
nafas tak teratur, fikiran penuh akan tekanan. derap langkah kaki di luar sana semakin menekan. terus menekan, hingga sesak.
haruskah keluar dari kenyataan yang begitu menekan ini?pikiran dicumbui rasa gelisah.
ayolah, aku hanya penumpang. tak perlu tertekan dengan semua ego dan kemunafikan di luar sana.
haruskah aku lari, dan terus berlari dengan semua kegelisahan ini hanya karena ego dan fanatisme dangkal?
melarikan fikiran dengan detak kegelisahan angels and airwaves-anxiety
Sunday, 26 June 2011
Duduk tertegun
Menatap ke ruang kelam
Pikiran melayang
Tatapan tajam
Aku terus duduk
Berusaha menciptakan ruang hangat
Untuk sajak sajak manis yg siap dituang
Lalu kita cerna dalam nikmat dunia
Aku berlari lari
Di dalam ruang mimpi
Terus menikmati hari
Dalam dimensi mimpi
Jika pohon yg rindang hanya ada dalam mimpi,
Aku selalu ingin bersumpah.
Bersumpah untuk tak ingin bangun,
Enggan menenggak fakta,
Pohon sudah tak rindang lagi.
Andai detik itu tidak bergerak, pembicaraan kita kan tetap hangat dalam cangkirnya, diteduhi pohon rindang.
Mengumandangkan #melancholicbitch, my feeling for you*
Menatap ke ruang kelam
Pikiran melayang
Tatapan tajam
Aku terus duduk
Berusaha menciptakan ruang hangat
Untuk sajak sajak manis yg siap dituang
Lalu kita cerna dalam nikmat dunia
Aku berlari lari
Di dalam ruang mimpi
Terus menikmati hari
Dalam dimensi mimpi
Jika pohon yg rindang hanya ada dalam mimpi,
Aku selalu ingin bersumpah.
Bersumpah untuk tak ingin bangun,
Enggan menenggak fakta,
Pohon sudah tak rindang lagi.
Andai detik itu tidak bergerak, pembicaraan kita kan tetap hangat dalam cangkirnya, diteduhi pohon rindang.
Mengumandangkan #melancholicbitch, my feeling for you*
Tuesday, 21 June 2011
death poem
-sajak yg terlambat masuk ke buku, hadir di akhir pekan yg tua-
You're a bow to my violin
A bow for the funeral songs
A deadly song
A deadly tune
You're the complex one
On every single simple things
When I know, I fall to the wrong one
Fall, die, on a deep bloody sea
Gesekan tak bernada
Diam dengan utuh
Lenyapkan detak dada
Darah berserak kumuh
Kembali hanya bisa diam
Dengan tatapan kosong
Mengambang diatas darah
Mati.
Kau, pembunuh...
"A Bow to My Violin-Hollywood Nobody"
You're a bow to my violin
A bow for the funeral songs
A deadly song
A deadly tune
You're the complex one
On every single simple things
When I know, I fall to the wrong one
Fall, die, on a deep bloody sea
Gesekan tak bernada
Diam dengan utuh
Lenyapkan detak dada
Darah berserak kumuh
Kembali hanya bisa diam
Dengan tatapan kosong
Mengambang diatas darah
Mati.
Kau, pembunuh...
"A Bow to My Violin-Hollywood Nobody"
Saturday, 28 May 2011
Cinta itu Buta
"Ini hari pertama dirinya kusekap. Diruangan yg lumayan layak untuk seorang sandera. Aku tetap memberinya sedikit kebebasan, tapi tidak untuk bergerak dan berteriak. Biarlah, aku tak peduli dengan amarahnya yg terus memuncak. Berdoa sajalah seseorang menghubungi dan membayar harga yg kutetapkan.
Mungkin tak ada yg sanggup menebus hargaku. Sedangkan Aku, butuh asupan makanan yg seperti orang lain dapatkan, begitu juga Kau. Bahkan Kau yg notabene sandera lebih banyak menerima suntikan gizi.
Ketika Kau tau hal itu, tatapanmu berubah.
Hari ketiga, masih tetap tak ada yg menghubungi. Aku sudah lelah menyekapmu, dan Aku tau Kau pun sudah lelah melihatku menahan rasa lapar. Kini Aku tergeletak nyaris tak berdaya. Mulai saat itu everything's changed.
Look to the stars, let hope burn in your eyes.
And we'll love, and we'll hope, and we'll die, all to no avail.
Tatapan kita berbeda, dan saat itu Aku tau, kita jatuh bersama.
This is the last time I'll abandon you, and this is the last time I'll forget you. I wish I could.
Aku mulai percaya, Cinta itu Buta..."
Stockholm Syndrome, Muse
Mungkin tak ada yg sanggup menebus hargaku. Sedangkan Aku, butuh asupan makanan yg seperti orang lain dapatkan, begitu juga Kau. Bahkan Kau yg notabene sandera lebih banyak menerima suntikan gizi.
Ketika Kau tau hal itu, tatapanmu berubah.
Hari ketiga, masih tetap tak ada yg menghubungi. Aku sudah lelah menyekapmu, dan Aku tau Kau pun sudah lelah melihatku menahan rasa lapar. Kini Aku tergeletak nyaris tak berdaya. Mulai saat itu everything's changed.
Look to the stars, let hope burn in your eyes.
And we'll love, and we'll hope, and we'll die, all to no avail.
Tatapan kita berbeda, dan saat itu Aku tau, kita jatuh bersama.
This is the last time I'll abandon you, and this is the last time I'll forget you. I wish I could.
Aku mulai percaya, Cinta itu Buta..."
Stockholm Syndrome, Muse
Subscribe to:
Posts (Atom)
