Showing posts with label #weekendproject. Show all posts
Showing posts with label #weekendproject. Show all posts

Sunday, 5 June 2016

Kau

Kau,
rinai yang membasahi beranda
yang memelukku dingin bersama angin selatan
menjelma rindu pada kelopak mata

Kau,
embun yang menjejak di jendela
lantunan nada yang mengirisku lirih
menjadi bahagia pada rimba yang jauh

Kau,
gurat yang patrinya tak lekang dalam enggan
batu karang yang kokoh di lautan ingatan
menjelma bayang di punggung keramaian

Kau,
mata yang ditumbuhi mawar
pada buku cerita yang kau suka

Kau,
punggung yang tak kusentuh
dalam potret lalu

Sunday, 22 May 2016

Langit yang Ingkar dan Laut yang Tengkar

Langit ingkar malam itu, ia penuhi kepalamu dengan ketidak-menentuannya.
Segala tanya yang enggan kita suarakan masih menyesakkan langit dan relungnya.
Segala tanya yang penuh sesak itu bermuara pada sesal.
Sementara laut masih tengkar akan ketidak-tahuanku.
Dan kamu masih bersungut dengan segala ragumu.
Langit yang ingkar dan laut yang tengkar,
dan tanda tanya itu masih menjadi rahasia yang sesakkan jiwa kita.

Saturday, 2 April 2016

Ketiadaan, yang Mewaraskan Kita

Pernah aku terobsesi pada sebuah ada.
Aku merasakan kehidupan dalam perbincangan kita,
hembusan nafasku menjadi lebih berarti di antara gelak tawa yang kita bagi.

Namun kita tau percakapan kita hanya bermuara pada ketiadaan,
dituntun berbatang rokok yang kita benamkan di asbak.
Gelas berembun yang kita tenggak hanya melepas dahaga,
yang lalu memeluk kita menuju tiada.

Kita tau ketiadaan lah yang akan mewaraskan kita.
Ketiadaan itu yang membuat kita menerima hidup.
Dan dalam tiada,
kita pelan-pelan menjadi nyata.
Kita adalah dua yang tidak benar-benar ada.

Sunday, 22 July 2012

Sepi

adam merenung pilu
tanpa kata, membisu
bibirnya kelu
hatinya sendu

paras hawa tak lagi rapi
hatinya diselimuti elegi
matanya sembab,
sehabis hujan semalam

adam tak membawa terang
hawa tak memberi tenang
mata adam berdebu
rintik di mata hawa makin menggebu

adam dan hawa hanya membisu
hatinya menggerutu
bara berserak di halaman
hati mereka kekeringan

adam dan hawa mengingkari janji
adam menggelapkan hawa
hawa menggelisahi adam
adam dan hawa kesepian

diberkahi lantunan melodi Efek Rumah Kaca - Lagu Kesepian

Sunday, 8 July 2012

Piano Tua di Sudut Ruangan


Piano tua di sudut ruangan;
Pak tua menebar angan,
dalam bentangan nada kelam,
menyayat perih jiwa yang muram.

Piano tua di sudut ruangan;
menjadi dalang dalam sebuah roman,
mereka menari nari di atas nadanya,
menjadi pigura nyata di dinding maya.

Nada nada sepi melantun,
merobek nadi cucu adam,
darahnya magenta,
mengucur deras dalam sesak.

dilantunkan dengan nada menyayat Sigur Ros - Fjogur Piano

Sunday, 6 May 2012

rindu, tamu yang begitu sendu




hujan bertamu,
rintinknya menggelitik bilik bilik rindu.
menggantung harap dibalik kaca jendela,
yang ada hanya taman kosong yg diganggui hujan, sendu.


pintanya hanya sederhana, sebuah temu.
meredam gebu gebu rindu.
menghafal setiap gores wajahnya,
dan kemudian kembali candu.


sepasang cucu adam dan hawa menggerutu pilu,
memaki singkatnya waktu,
angkuhnya sebuah jarak,
dan hujan kini menertawai hati melalui rintik dibalik kaca.

Sunday, 22 April 2012

menyapa senja

sore ini Tuhan menegurku melalui sebuah senja.
Ia menunjukkan kuasanya,
Ia lukis langit sesukanya,
oranye dan biru menari nari diatas sana.
indah, memang.
Tuhan seakan berkata, "dunia ini tidak sepenuhnya muram. apa lagi yg kau ragukan."
kemudian aku hanya tertunduk malu.
kemudian kusapa senja yang indah itu.
ia lalu perlahan lahan pergi,
temaram,
kemudian gelap menghiasi bumi.
lalu aku tanamkan didalam hatiku, "pasti ada senja senja yg lain nantinya".
salam dariku, pengagummu, Senja

Sunday, 18 March 2012

"kabut yang likang
dan kabut yang pupuh
lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan
matahari menggeliat dan kembali gugur
tak lagi di langit berpusing
di perih lautan"

-melancholic bitch, kartu pos bergambar jembatan golden gate san fransisco (puisi karya Sapardi Djoko Damono)

hujan jatuh terlalu dalam,
merasuki setiap persendian,
memberi kontradiksi sederhana.

Tuhan memberi sebuah redam,
kesejukan yg terlalu dalam,
kebencian dalam sebuah diam.

kini aku menaklukkan beku dalam sebuah cangkir.

Saturday, 19 November 2011

Aku Pria

"Sempurna. Langkahku semakin tegap. Kumis, jenggot dan bintik bintik bekas mencukur tampak merekat dengan kokoh di wajahku.
Kini aku siap, menjadi orang nomor satu. Menjadi seorang Pangeran.
Aku bukan primadona lagi.
Bahkan kini Primadona kota lah yang akan takluk ke pangkuanku."

Fatamorgana nyata dilaluinya. Ia berjalan tegap penuh wibawa layaknya seorang Tuan bangsawan bermartabat tinggi. Seisi bumi seakan terpaku dengan penampilannya.
Tapi tetap saja Ia masih tak mampu menipu mata jeli satuan pamong praja di malam yang begitu gelap. Kedok terbuka.
Tertangkap, karantina lagi.

imajinasikan dengan lantunan Frau - I'm a Sir

Sunday, 9 October 2011

harapan seorang bocah

follow the street, follow the lampline.
aku terus mengikuti liukan jalanan yg panjang. menikmati gelap malam sambil terus mengikuti cahaya lampu jalanan yang menjadi penunjuk jalan.
terus berjalan, melupakan rasa penat yg membebani pundak.

come to the garden where they all will gather.
ah, tamannya sudah terlihat. aku bisa mengistirahatkan tubuhku sejenak. dunia terlalu keras bagi tubuh kecilku.

loosing conscious, loosing all the daydream.
kesadaranku perlahan melayang layang, hilang. semua angan angan yg ku gambarkan di langit saat bumi begitu terang benderang dan terik perlahan juga menghilang.

the street is empty tonight. we are going to consume all the daylight.
jalanan sudah kosong. tak ada lagi pembaca surat kabar. kini, hanya kami gerombolan bocah yg mengonsumsi terang bulan dan lampu jalanan. di bawah remang lampu jalanan, kami memejamkan mata. berharap ada yg menjadikan kami sosok berharga.

hanya berharap nominal yang lebih besar untuk setiap eksamplar yg kami jual.
hanya berharap bisa menjadi seperti mereka mereka,
sosok seusiaku yg menikmati remang lampu jalanan dengan kain tebal membungkus tubuhnya dan sesosok tinggi besar memberi kasih sayang.
menikmati makanan enak, tidur di kasur empuk.

the street is empty tonight.
saatnya aku tidur, dengan segala harapan.

(mengkonversikan konsep Melancholic Bitch - the street)

Saturday, 1 October 2011

lari..

mimpi indah berlalu begitu cepat tanpa jejak. penglihatan tersuramkan detak jantung yang semakin mengencang.
keringat pun mengucur. membasahi raut wajah yang seakan menyimpan banyak pertanyaan.
terbangun dengan perasaan yang hanya merasakan kematian semakin dekat. harus berlari jauh dari komplotan komplotan pembunuh dengan beribu siasat nya.

detak jantung mengencang.
fikiran tak fokus.
keringat tak henti mengucur.

seakan tak ada titik terang yang hadir. semua tampak begitu gelap di tengah gemerlap yang akan muncul di akhir hembusan nafas ini.

nafas tak teratur, fikiran penuh akan tekanan. derap langkah kaki di luar sana semakin menekan. terus menekan, hingga sesak.

haruskah keluar dari kenyataan yang begitu menekan ini?pikiran dicumbui rasa gelisah.
ayolah, aku hanya penumpang. tak perlu tertekan dengan semua ego dan kemunafikan di luar sana.

haruskah aku lari, dan terus berlari dengan semua kegelisahan ini hanya karena ego dan fanatisme dangkal?

melarikan fikiran dengan detak kegelisahan angels and airwaves-anxiety

Sunday, 26 June 2011

Duduk tertegun
Menatap ke ruang kelam
Pikiran melayang
Tatapan tajam

Aku terus duduk
Berusaha menciptakan ruang hangat
Untuk sajak sajak manis yg siap dituang
Lalu kita cerna dalam nikmat dunia

Aku berlari lari
Di dalam ruang mimpi
Terus menikmati hari
Dalam dimensi mimpi

Jika pohon yg rindang hanya ada dalam mimpi,
Aku selalu ingin bersumpah.
Bersumpah untuk tak ingin bangun,
Enggan menenggak fakta,
Pohon sudah tak rindang lagi.

Andai detik itu tidak bergerak, pembicaraan kita kan tetap hangat dalam cangkirnya, diteduhi pohon rindang.

Mengumandangkan #melancholicbitch, my feeling for you*

Tuesday, 21 June 2011

death poem

-sajak yg terlambat masuk ke buku, hadir di akhir pekan yg tua-

You're a bow to my violin
A bow for the funeral songs
A deadly song
A deadly tune

You're the complex one
On every single simple things
When I know, I fall to the wrong one
Fall, die, on a deep bloody sea

Gesekan tak bernada
Diam dengan utuh
Lenyapkan detak dada
Darah berserak kumuh

Kembali hanya bisa diam
Dengan tatapan kosong
Mengambang diatas darah
Mati.
Kau, pembunuh...

"A Bow to My Violin-Hollywood Nobody"

Saturday, 28 May 2011

Cinta itu Buta

"Ini hari pertama dirinya kusekap. Diruangan yg lumayan layak untuk seorang sandera. Aku tetap memberinya sedikit kebebasan, tapi tidak untuk bergerak dan berteriak. Biarlah, aku tak peduli dengan amarahnya yg terus memuncak. Berdoa sajalah seseorang menghubungi dan membayar harga yg kutetapkan.

Mungkin tak ada yg sanggup menebus hargaku. Sedangkan Aku, butuh asupan makanan yg seperti orang lain dapatkan, begitu juga Kau. Bahkan Kau yg notabene sandera lebih banyak menerima suntikan gizi.

Ketika Kau tau hal itu, tatapanmu berubah.
Hari ketiga, masih tetap tak ada yg menghubungi. Aku sudah lelah menyekapmu, dan Aku tau Kau pun sudah lelah melihatku menahan rasa lapar. Kini Aku tergeletak nyaris tak berdaya. Mulai saat itu everything's changed.
Look to the stars, let hope burn in your eyes.
And we'll love, and we'll hope, and we'll die, all to no avail.


Tatapan kita berbeda, dan saat itu Aku tau, kita jatuh bersama.
This is the last time I'll abandon you, and this is the last time I'll forget you. I wish I could.
Aku mulai percaya, Cinta itu Buta..."

Stockholm Syndrome, Muse