Showing posts with label Semesta Kita. Show all posts
Showing posts with label Semesta Kita. Show all posts

Monday, 20 May 2013

Cangkir yang Tidak Lagi Bisa dibagi Berdua

Maaf, ketika aku menumpahkan secangkir keceriaanmu. Menuangkan kopi pahit yang kau enggan dari teko kesukaanku. Kerap tidak menabur gula kebahagiaan pada cangkir kita. Yang ada hanya kegetiran. Tanganku pun kaku, tanpa bisa memapahmu dalam kegelisahanmu. Hingga akhirnya kau lelah.
Dan pada akhirnya, sekarang, kita menikmati cangkir kita masing-masing. Cangkir yang sudah tidak lagi bisa kita nikmati berdua.
Terimakasih untuk cangkir-cangkir manis selama ini. Kau berhak menikmati dunia yang ceria layaknya cangkir kesukaanmu. Pergilah, kejar kupu-kupu manis di taman itu. Bermain sesuka hatimu menikmati pijaran hangat sinar mentari, tanpa lelah, tanpa ada bayang kegelisahan.

Monday, 28 January 2013

Aku ingin menyapukan pensilku diatas kertas, membuat sebuah sketsa. Membiarkan sketsa itu berbicara dalam diam. Menggantungnya di dinding hatimu. Meresap hingga ke sel-sel ragamu.
Karena aku tidak perlu banyak berbicara untuk menuangkan segala gebu sayang yang ada pada hati ini. Karena semesta kita bercengkrama tidak melulu tersurat.

Monday, 14 January 2013

Waktu pada Semesta Kita

Selamat sore, Nona.

Atau aku seharusnya mengucapkan selamat malam? Karena aku yakin kau akan membacanya pada malam hari. Ah sudahlah, aku memang tidak pandai berbasa-basi. Seperti saat kita pertama mengenal satu sama lain. Bahkan kita sepertinya tidak pernah benar-benar berkenalan. Kita sama-sama ingat bagaimana kita memulai percakapan pada sebuah media pesan singkat. Iya, aku memulainya tanpa ada basa-basi. Dan memang sepertinya tanpa perkenalan.
Tetapi, waktu membiarkan kita mengenal tanpa basa-basi bernama perkenalan.

Waktu juga yang membiarkan kita membuat langkah-langkah kecil kita selama ini. Membiarkan kita menciptakan romansa pada semesta kita. Waktu juga yang membiarkan kita mengisi semesta kita dengan tawa ceriamu, menorehkan keindahan-keindahan lainnya.
Meski terkadang waktu terlalu tergesa-gesa dan pergi terlalu cepat.

Waktu terbang begitu saja sejak pada pagi hari di ulang tahunmu yang ke-17.
Meski belum genap 30 hari. Pagi itu kita memulai semesta kita yang baru. Pagi itu waktu menepis semua ragu pada kepala kita. Pada pagi itu waktu menjawab pertanyaan yang sama yang pernah aku berikan kepadamu. Pada pagi itu, kau dan aku, menjadi kita.

Sayang, kita akan terus berjalan bersama. Kita tidak perlu berhenti saat kau tertatih, aku akan ada untuk memapahmu. Kita akan terus melangkah. Dan waktu, bersama semesta akan berkonspirasi untuk semesta kita.

-Surat pertama pada kotak pos Semesta Kita, @pramithaR-

Sunday, 30 December 2012

Kinanti

Kita bisa menari-nari dengan indah dipayungi aurora di Antartika
Kita bisa menikmati spa bumi di Blue Lagoon, Reykjavik sembari bercengkrama
Atau kita bisa menaklukkan malam sembari menikmati secangkir kopi di Santa Helena
Tentunya dengan memandangi garis indah parasmu, Sayang

Kemarilah, Sayang
Aku tidak perlu langit tenang kota Paris untuk melahirkan sajak untukmu
Aku hanya perlu duduk berdua denganmu
Menikmati setiap irama jarum waktu yang berdetak

Ada debar yang berbeda ketika bersamamu
Aku menemukan bahagia pada dirimu, Sayang
Perasaan bahagia saat bersamamu adalah sajak terindah
Ia berbicara melalui hati

Saling menyalingkan rasa
Meruntuhkan gulita nestapa
Hanya ada kita
Mencumbu semesta tanpa takut pada kehilangan

diiringi lantunan merdu Katjie & Piering - Kinanti

Wednesday, 26 December 2012

Malam Pada Semesta Kita


Ketika malam semakin larut, kita hanya tidak bisa merelakan waktu yang terbang meninggalkan kita berdua. Langit yang biru perlahan menjadi kemerahan. Kemudian semakin memekat, menjadi gelap, menjadi malam.
Jalanan semakin kosong, hanya ada beberapa yang masih melintas.
Sementara isi kepala kita masih terus berlalu lalang, tumpah ruah perlahan, bergantian mengunjungi masing-masing kepala kita.
Kemudian kita saling menumpahi langit malam yg kemudian memudar dengan percakapan kita. Waktu kembali terbang. Sudah saatnya kau lelap dalam tenang dan kesejukan malam.
Kemudian aku akan mengantarmu pada lelapmu yang paling dalam. Bermain dalam mimpi yang indah.
buon nanotte.
ich liebe dich, schatz.

Tuesday, 18 December 2012

Semesta Kita

Ini tentang bagaimana peranakan cucu Adam dan cucu Hawa melewati jalan setapak. Berhiaskan taman bunga yang indah. Ini tentang bagaimana cucu Adam dan cucu Hawa menyeruput cangkir semesta mereka. Ini tentang perjalan sepasang kekasih, yang saling membagi kasih, membagi hidup.
Ini tentang bagaimana cucu Adam menemukan sebilah rusuknya yang lain, bagaimana cucu Hawa berlindung di lengan Adam pada malam yang dingin.

Ini adalah semesta dimana kita membagi kisah, menumpah ruahkan beragam cerita.
Cangkirku siap menerima gelisahmu. Aku siap memberimu secangkir ketenangan.
Ini semesta kita, Nona.