Ini tentang bagaimana peranakan cucu Adam dan cucu Hawa melewati jalan setapak. Berhiaskan taman bunga yang indah. Ini tentang bagaimana cucu Adam dan cucu Hawa menyeruput cangkir semesta mereka. Ini tentang perjalan sepasang kekasih, yang saling membagi kasih, membagi hidup.
Ini tentang bagaimana cucu Adam menemukan sebilah rusuknya yang lain, bagaimana cucu Hawa berlindung di lengan Adam pada malam yang dingin.
Ini adalah semesta dimana kita membagi kisah, menumpah ruahkan beragam cerita.
Cangkirku siap menerima gelisahmu. Aku siap memberimu secangkir ketenangan.
Ini semesta kita, Nona.
Tuesday, 18 December 2012
Friday, 30 November 2012
Sunday, 18 November 2012
Thursday, 13 September 2012
kepada malam, yang tak kunjung padam
kepada malam yang kelam;
rongga-rongga otaknya telah lelah kau permainkan.
kepada malam yang kelam;
nafasnya terengah, lelah, pandangannya buram.
kepada malam yang ranum;
sepasang bola matanya lelah mematung, hanyut dalam lamun.
kepada malam yang ranum;
kerongkongannya kering meneriaki sebuah bisu.
kepada malam yang penuh enggan, lihatlah; ia kelelahan berjibaku melawan kelam mu, penuh kesesakan. biarkan rongga-rongga otaknya berhenti berlari, biarkan ia menghirup bebas, beri lah lelap kepada sepasang mata yang berkantung kelam itu, biarkan ia menengguk segelas kebahagiaan.
lepas dari cekaman dingin dan penuh keresahan. gelisah. ia lelah.
rongga-rongga otaknya telah lelah kau permainkan.
kepada malam yang kelam;
nafasnya terengah, lelah, pandangannya buram.
kepada malam yang ranum;
sepasang bola matanya lelah mematung, hanyut dalam lamun.
kepada malam yang ranum;
kerongkongannya kering meneriaki sebuah bisu.
kepada malam yang penuh enggan, lihatlah; ia kelelahan berjibaku melawan kelam mu, penuh kesesakan. biarkan rongga-rongga otaknya berhenti berlari, biarkan ia menghirup bebas, beri lah lelap kepada sepasang mata yang berkantung kelam itu, biarkan ia menengguk segelas kebahagiaan.
lepas dari cekaman dingin dan penuh keresahan. gelisah. ia lelah.
Tuesday, 14 August 2012
Malam yang Enggan
seberapa sulit untuk terpejam? sulit. sepasang kelopak mata ini enggan terpejam. insomnia, kata mereka.
atau karena kafein?
atau karena kafein?
tapi secangkir kafein hanyalah cangkir yang terlalu manis untuk menjadi tersangka. kafein mampu memberi romansa romansa indah pada sebuah malam yang larut. kafein juga tak melulu sendu, karena kita tidak selamanya menyeduh sebuah sendu.
kafein itu teman terbaik untuk sebuah malam.
lalu, dongeng apa yang cocok untuk meniduri sepasang kelopak mata yang sudah tidak berukuran wajar? romansa lagi? kita mungkin sudah bosan akan dongeng-dongeng yang itu-itu saja.
sajak apa yang harus kita dendangkan lagi? elegi? kita tidak perlu meresapi elegi sampai mati.
ah, sudahlah. malam mungkin hanya berkonspirasi untuk mencumbu rongga rongga otakku. menuangkan isi tiap tiap sudut otak ini.
malam enggan berlalu begitu cepat pada sepasang mata ini.
Sunday, 12 August 2012
Pelangi yang Tak Kunjung Datang
Nafasnya sendu, matanya pilu, hatinya kemarau, maskaranya luntur tak beraturan. Seorang Wanita tertatih di tengah hutan yang meredam dunia luar. Dunia yang terlalu keras bagi seorang Wanita rapuh.
Wanita ini terus berlari, membelah rusuk-rusuk hutan yang didiami pohon besar dan kekar. Matanya tak henti menghujani pipinya. Ia terus berjalan dengan sendu. Kepalanya masih dibayang-bayangi Pria dengan tuxedo hitam yang mencekik tangisnya.
Pria tua dengan jas dan dasi kupu-kupu usang mendatanginya,
"Apa yang kau cari disini, gadis kecil?"
"Aku mencari pelangi.", jawab wanita itu singkat, tanpa memeberi atensi lebih ke pak tua.
Ia terus berjalan, sembari menggenggam mawar yang dimekari oleh air matanya.
Musim penghujan seakan betah memberi siklus pada matanya, sementara hatinya kering kerontang. Rambutnya tergerai layu. Ia berjalan dan terus berjalan.
Entah dimana Ia akan menemukan pelangi. Ia hanya berjalan lurus dengan berbagai pikiran yang merecoki hatinya, menyayat-nyayat sisi-sisi hatinya yang semakin rapuh.
Sampai pada akhirnya isi kepalanya tumpah ruah, menembak tepat ke jantungnya layaknya selongsong peluru.
Wanita tadi terbunuh oleh pikirannya sendiri, roh nya meninggalkan jiwa yang penuh peluh, mata yang memerah, dan hati yang keruh. Namun pelangi tak kunjung datang.
Sunday, 29 July 2012
Tersesat di Bima Sakti
Si Pria berwajah klimis, kumisnya ter-iris manis. Ia tinggal di Mars. Keahliannya adalah sintaksis. Tiap rongga geriknya adalah janggal. Tiap aksara yang digoreskannya hanyalah sintaksis tanpa isi. Nir-komposisi.
Si Wanita bertubuh indah, arsir wajahnya sempurna. Dihidupi di Venus. Ia mengolah nada-nada minor menjadi satu kesatuan indah, bak seorang biduan.
Mereka bertemu pada musim dingin di suatu sudut di Bima Sakti. Saling menghangati tulang-tulang yang dipenuhi gigil. Menebar buih-buih rindu. Tanpa pernah meragu. Mereka candu pada cangkir konversasi ringan, layaknya sepasang yang sudah dicuci isi otak dan hatinya.
"Mari kita teguk bersama cangkir ini, dalam limpah suka."
"Dengan senang hati, tuan."
Mereka hidup bersama. Meninggalkan Mars, dan juga Venus. Mereka memilih meninggali Bumi yang menyedihkan, penuh elegi. Mereka seolah melakukan kesalahan terbesar. Kulit mereka perlahan mengelupas, teriris perihnya musim panas. Jantung mereka memompa darah lebih cepat dari biasanya. Kepala mereka berdua mendidih. Space Dementia. Mereka melayang di permukaan Bumi.
"Tidak seharusnya kita disini."
"Ini semua salahmu, makhluk aneh."
Tingkah laku mereka sudah tidak lagi selayaknya. Disorder. Kisah yang mereka pepatkan memuai sempurna, tak lagi berisi. Debar jantungnya mulai memasuki outro. Si wanita memasuki dua musim; penghujan pada sepasang matanya, kering pada hatinya. Kontradiksi sempurna. Si wanita merekah, lelah. Si pria terkapar, menyerah.
Bibir mereka kelu, otaknya membeku. Saat itu kupu-kupu tak lagi mengepakkan keindahan. Oksimoron sudah kadaluarsa, semuanya linier. Magenta, darah yang mengucur dari kepala mereka.
Mereka terbang, kembali ke Venus, dan juga Mars. Namun mereka hanya terlalu lelah melayang, jatuh ke dunia entah berantah di luar angkasa sana. Tersesat di sudut lain di Bima Sakti.
Sunday, 22 July 2012
Sepi
adam merenung pilu
tanpa kata, membisu
bibirnya kelu
hatinya sendu
paras hawa tak lagi rapi
hatinya diselimuti elegi
matanya sembab,
sehabis hujan semalam
adam tak membawa terang
hawa tak memberi tenang
mata adam berdebu
rintik di mata hawa makin menggebu
adam dan hawa hanya membisu
hatinya menggerutu
bara berserak di halaman
hati mereka kekeringan
adam dan hawa mengingkari janji
adam menggelapkan hawa
hawa menggelisahi adam
adam dan hawa kesepian
diberkahi lantunan melodi Efek Rumah Kaca - Lagu Kesepian
tanpa kata, membisu
bibirnya kelu
hatinya sendu
paras hawa tak lagi rapi
hatinya diselimuti elegi
matanya sembab,
sehabis hujan semalam
adam tak membawa terang
hawa tak memberi tenang
mata adam berdebu
rintik di mata hawa makin menggebu
adam dan hawa hanya membisu
hatinya menggerutu
bara berserak di halaman
hati mereka kekeringan
adam dan hawa mengingkari janji
adam menggelapkan hawa
hawa menggelisahi adam
adam dan hawa kesepian
diberkahi lantunan melodi Efek Rumah Kaca - Lagu Kesepian
Subscribe to:
Posts (Atom)

