Thursday, 17 January 2013

Harmoni pada D Minor

Selamat sore, buddy @hollynobody.

Semoga surat ini membawa cinta yang harmoni, sebagaimana harmoni indah yang kalian berikan pada D minor. Kemudian kita bisa berdansa hingga pagi dalam lantunan Bossanova yang modern yang diselimuti oleh balutan nada pop.

Hari itu sedang hujan, ia membawa berkah. Hujan menuntunku bertemu dengan lantunan-lantunan merdu Pop-Bossanova dari ranah Bandung. Membiarkanku terjatuh begitu saja, meresapi Kiss the Pain Away, untuk selanjutnya larut dalam nada-nada indah nan merdu lainnya. Dan kemudian menjadi soundtrack untuk skrip-skrip hidup yang aku jalani selama ini.

Sesederhana itu aku larut dalam harmoni-harmoni romantik yang tercipta dalam selusin lebih lagu yang kalian ciptakan. Begitu indah.
Cinta memang unik, Tuhan memang maha luar biasa menciptakan komposisi nya. Bagaimana seseorang jatuh kepada sesuatu yang tidak hidup seperti dirinya. Se-spontan itu, se-spontan bagaimana kalian -Hollywood Nobody- terbentuk.

Ah, aku merasa sebuah rindu.
Rindu untuk begitu excited seperti dahulu kala saat pertama kali mendengarkan lagu-lagu kalian.
Baiklah, surat ini semakin tampak tidak berisi. Aku memang tidak handal mengungkapkan sebuah kecintaan.
Semoga kalian sehat selalu, dan aku di sini, Pekanbaru, akan terus menantikan karya terbaru dari kalian. Dan semoga kita bisa bertemu secara langsung, kalian di atas panggung dan aku menjadi salah satu yang ada didalam keramaian menyaksikan harmoni kalian, dengan detak jantung yang tidak biasa, penuh sukacita.

Yes, everything happens for a reason. And i'll always be here, capturing your moves. So I write this letter for you.

-Dari seorang pengagum Pencinta.

Monday, 14 January 2013

Waktu pada Semesta Kita

Selamat sore, Nona.

Atau aku seharusnya mengucapkan selamat malam? Karena aku yakin kau akan membacanya pada malam hari. Ah sudahlah, aku memang tidak pandai berbasa-basi. Seperti saat kita pertama mengenal satu sama lain. Bahkan kita sepertinya tidak pernah benar-benar berkenalan. Kita sama-sama ingat bagaimana kita memulai percakapan pada sebuah media pesan singkat. Iya, aku memulainya tanpa ada basa-basi. Dan memang sepertinya tanpa perkenalan.
Tetapi, waktu membiarkan kita mengenal tanpa basa-basi bernama perkenalan.

Waktu juga yang membiarkan kita membuat langkah-langkah kecil kita selama ini. Membiarkan kita menciptakan romansa pada semesta kita. Waktu juga yang membiarkan kita mengisi semesta kita dengan tawa ceriamu, menorehkan keindahan-keindahan lainnya.
Meski terkadang waktu terlalu tergesa-gesa dan pergi terlalu cepat.

Waktu terbang begitu saja sejak pada pagi hari di ulang tahunmu yang ke-17.
Meski belum genap 30 hari. Pagi itu kita memulai semesta kita yang baru. Pagi itu waktu menepis semua ragu pada kepala kita. Pada pagi itu waktu menjawab pertanyaan yang sama yang pernah aku berikan kepadamu. Pada pagi itu, kau dan aku, menjadi kita.

Sayang, kita akan terus berjalan bersama. Kita tidak perlu berhenti saat kau tertatih, aku akan ada untuk memapahmu. Kita akan terus melangkah. Dan waktu, bersama semesta akan berkonspirasi untuk semesta kita.

-Surat pertama pada kotak pos Semesta Kita, @pramithaR-

Sunday, 30 December 2012

Kinanti

Kita bisa menari-nari dengan indah dipayungi aurora di Antartika
Kita bisa menikmati spa bumi di Blue Lagoon, Reykjavik sembari bercengkrama
Atau kita bisa menaklukkan malam sembari menikmati secangkir kopi di Santa Helena
Tentunya dengan memandangi garis indah parasmu, Sayang

Kemarilah, Sayang
Aku tidak perlu langit tenang kota Paris untuk melahirkan sajak untukmu
Aku hanya perlu duduk berdua denganmu
Menikmati setiap irama jarum waktu yang berdetak

Ada debar yang berbeda ketika bersamamu
Aku menemukan bahagia pada dirimu, Sayang
Perasaan bahagia saat bersamamu adalah sajak terindah
Ia berbicara melalui hati

Saling menyalingkan rasa
Meruntuhkan gulita nestapa
Hanya ada kita
Mencumbu semesta tanpa takut pada kehilangan

diiringi lantunan merdu Katjie & Piering - Kinanti

Wednesday, 26 December 2012

Malam Pada Semesta Kita


Ketika malam semakin larut, kita hanya tidak bisa merelakan waktu yang terbang meninggalkan kita berdua. Langit yang biru perlahan menjadi kemerahan. Kemudian semakin memekat, menjadi gelap, menjadi malam.
Jalanan semakin kosong, hanya ada beberapa yang masih melintas.
Sementara isi kepala kita masih terus berlalu lalang, tumpah ruah perlahan, bergantian mengunjungi masing-masing kepala kita.
Kemudian kita saling menumpahi langit malam yg kemudian memudar dengan percakapan kita. Waktu kembali terbang. Sudah saatnya kau lelap dalam tenang dan kesejukan malam.
Kemudian aku akan mengantarmu pada lelapmu yang paling dalam. Bermain dalam mimpi yang indah.
buon nanotte.
ich liebe dich, schatz.

Tuesday, 18 December 2012

Semesta Kita

Ini tentang bagaimana peranakan cucu Adam dan cucu Hawa melewati jalan setapak. Berhiaskan taman bunga yang indah. Ini tentang bagaimana cucu Adam dan cucu Hawa menyeruput cangkir semesta mereka. Ini tentang perjalan sepasang kekasih, yang saling membagi kasih, membagi hidup.
Ini tentang bagaimana cucu Adam menemukan sebilah rusuknya yang lain, bagaimana cucu Hawa berlindung di lengan Adam pada malam yang dingin.

Ini adalah semesta dimana kita membagi kisah, menumpah ruahkan beragam cerita.
Cangkirku siap menerima gelisahmu. Aku siap memberimu secangkir ketenangan.
Ini semesta kita, Nona.

Friday, 30 November 2012

kemarilah, nona.
aku punya secangkir semesta hangat. kita bisa larut didalamnya. berekreasi. meninggalkan jejak untuk berjalan-jalan kembali ke sini, dari masa depan sana. tanpa segenggam ragu.

Sunday, 18 November 2012

berapa cangkir lagi yang akan kita biarkan menguap, dan kafein yang hanya mengepul di udara.
berapa rintik hujan lagi yg akan terhitung sebagai rindu semu.
dan pada akhir lembarnya, kita berbagi cangkir ambigu.

Thursday, 13 September 2012

kepada malam, yang tak kunjung padam

kepada malam yang kelam;
rongga-rongga otaknya telah lelah kau permainkan.
kepada malam yang kelam;
nafasnya terengah, lelah, pandangannya buram.

kepada malam yang ranum;
sepasang bola matanya lelah mematung, hanyut dalam lamun.
kepada malam yang ranum;
kerongkongannya kering meneriaki sebuah bisu.

kepada malam yang penuh enggan, lihatlah; ia kelelahan berjibaku melawan kelam mu, penuh kesesakan. biarkan rongga-rongga otaknya berhenti berlari, biarkan ia menghirup bebas, beri lah lelap kepada sepasang mata yang berkantung kelam itu, biarkan ia menengguk segelas kebahagiaan.
lepas dari cekaman dingin dan penuh keresahan. gelisah. ia lelah.