Jalanan basah kuyup dijatuhi hujan. Namun di sini tetap hangat. Di antara kepulan asap rokok, wacana membanjiri meja kita. Di antara pelayan yang berlalu lalang, kepala kita saling antusias untuk disesaki hal-hal menarik. Musik dari speaker terdengar sayup-sayup, tertutup oleh riuh nya wacana.
Lalu kita menyeduh cangkir masing-masing. Tanpa mempedulikan waktu. Membiarkan diri kita hanyut oleh wacana-wacana yang mengalir dengan deras. Sesekali tertawa. Sesekali dahi kita berkerut. Sesekali mencibir. Sesekali diam sambil melihat ke jalan.
Saling melempar sebuah senyum. Lalu kita pulang. Ditemani pekat kopi dan degup kafein, juga menghirup wangi sehabis hujan. Sebuah romansa sederhana dari warung kopi.
Wednesday, 11 December 2013
Monday, 18 November 2013
Sunday, 13 October 2013
Piknik
Di padang rumput yg luas ini, dengan segala keindahannya, dengan tiupan mesra angin yg berlalu lalang, kita akan membagi luka;
Robek di rongga dadaku, kantung mata yg melepuh pada sepasang matamu.
Kita biarkan darah mengalir, saling menyatu.
Tanpa perlu berbicara;
sesakkan dadaku dengan kehidupan, dan aku akan menyeka kesedihan-kesedihan yg ada pada matamu.
Lalu kita berpiknik dengan riang;
menyantap mangkuk-mangkuk yg dipenuhi kerinduan, dan satu teko kebahagiaan yang kita bagi berdua.
Robek di rongga dadaku, kantung mata yg melepuh pada sepasang matamu.
Kita biarkan darah mengalir, saling menyatu.
Tanpa perlu berbicara;
sesakkan dadaku dengan kehidupan, dan aku akan menyeka kesedihan-kesedihan yg ada pada matamu.
Lalu kita berpiknik dengan riang;
menyantap mangkuk-mangkuk yg dipenuhi kerinduan, dan satu teko kebahagiaan yang kita bagi berdua.
Monday, 19 August 2013
Rumah yang Bukan Lagi Aku
Ada yang janggal pada wajahmu
Arsir mukamu tidak lagi sama
Padahal aku begitu hafal gores-gores nya
Barangkali musim penghujan pada matamu merubahnya
Ada yang janggal pada bibirmu
Lekuk indah bagai bulan sabit itu tak lagi bercahaya
Padahal aku suka disinari senyummu
Barangkali awan kelabu di kepalamu meredupkan sinarnya
Namun aku tidak lihai dalam menerka-nerka
Kini Aku tau apa yang membuatku merasa janggal
Arsir mukamu, lekuk senyummu,
tidak lagi berpulang ke aku,
Rumah yang tak mampu melindungimu dari terpaan hujan
Arsir mukamu tidak lagi sama
Padahal aku begitu hafal gores-gores nya
Barangkali musim penghujan pada matamu merubahnya
Ada yang janggal pada bibirmu
Lekuk indah bagai bulan sabit itu tak lagi bercahaya
Padahal aku suka disinari senyummu
Barangkali awan kelabu di kepalamu meredupkan sinarnya
Namun aku tidak lihai dalam menerka-nerka
Kini Aku tau apa yang membuatku merasa janggal
Arsir mukamu, lekuk senyummu,
tidak lagi berpulang ke aku,
Rumah yang tak mampu melindungimu dari terpaan hujan
Friday, 19 July 2013
Sebuah Lullaby
Kemarilah, nona. Aku punya sedikit cerita. Kau boleh bersandar di bahuku. Dan biarkan jemariku membelah lembut rambutmu.
Cukup dengarkan saja.
Begini ceritanya..
"Pada suatu pagi yang biasa-biasa saja, seorang Pria melakukan aktivitasnya, yang biasa-biasa saja. Ia bekerja sedari matahari terbit, hingga langit senja ranum. Namun sore itu ada yang tidak biasa. Ia tidak frustasi oleh pekerjaannya. Satu, Ia menyelesaikan pekerjaannya 1 jam lebih awal. Dua, rintik hujan jatuh membasahi jalanan, menempel pada kaca di sebelah kubikelnya, di lantai 15.
Ia tersadar. Ada sesuatu yang tidak biasanya hinggap di kepalanya. Ia merasakan sebuah rindu. Agustus 20, itu tanggal hari ini. Entahlah, Ia mengaitkannya dengan puisi Sapardi, Hujan di Bulan Juni. Mungkin memang rindu-rindu yang ia rasakan telah dirahasiakan oleh hujan di bulan Juni pada pohon berbunga itu. Mungkin jejak-jejak keraguannya memang sudah dihapus oleh hujan di bulan Juni. Sudah 2 bulan. Ia tak pernah merasakan hal yang lebih melankolis daripada yang dirasakannya sekarang.
Kemudian lelaki itu bergegas turun, Ia duduk di halte setelah membelah guyuran hujan. Tidak lama, bus yang ditunggunya tiba. Ia duduk tepat di samping jendela. Membiarkan kenangan-kenangan yang pernah terekam di kepalanya direfleksikan kembali oleh kaca jendela."
Kau tau kemana lelaki itu? Sst. Ya, Ia sedang memeluk penuh kasih sayang seorang wanita cantik, yang kini telah membisu, tertidur dengan pulas. Mempersembahkan sebuah cerita yang tidak ada apa-apanya sebagai persembahan ulang tahun terakhir. Ulang tahun terakhir seorang wanita yang umurnya tidak dirahasiakan Tuhan kepada seorang dokter.
Selamat ulang tahun, sayang. Tuhan pasti punya kado yang jauh lebih spesial dariku di sana.
Cukup dengarkan saja.
Begini ceritanya..
"Pada suatu pagi yang biasa-biasa saja, seorang Pria melakukan aktivitasnya, yang biasa-biasa saja. Ia bekerja sedari matahari terbit, hingga langit senja ranum. Namun sore itu ada yang tidak biasa. Ia tidak frustasi oleh pekerjaannya. Satu, Ia menyelesaikan pekerjaannya 1 jam lebih awal. Dua, rintik hujan jatuh membasahi jalanan, menempel pada kaca di sebelah kubikelnya, di lantai 15.
Ia tersadar. Ada sesuatu yang tidak biasanya hinggap di kepalanya. Ia merasakan sebuah rindu. Agustus 20, itu tanggal hari ini. Entahlah, Ia mengaitkannya dengan puisi Sapardi, Hujan di Bulan Juni. Mungkin memang rindu-rindu yang ia rasakan telah dirahasiakan oleh hujan di bulan Juni pada pohon berbunga itu. Mungkin jejak-jejak keraguannya memang sudah dihapus oleh hujan di bulan Juni. Sudah 2 bulan. Ia tak pernah merasakan hal yang lebih melankolis daripada yang dirasakannya sekarang.
Kemudian lelaki itu bergegas turun, Ia duduk di halte setelah membelah guyuran hujan. Tidak lama, bus yang ditunggunya tiba. Ia duduk tepat di samping jendela. Membiarkan kenangan-kenangan yang pernah terekam di kepalanya direfleksikan kembali oleh kaca jendela."
Kau tau kemana lelaki itu? Sst. Ya, Ia sedang memeluk penuh kasih sayang seorang wanita cantik, yang kini telah membisu, tertidur dengan pulas. Mempersembahkan sebuah cerita yang tidak ada apa-apanya sebagai persembahan ulang tahun terakhir. Ulang tahun terakhir seorang wanita yang umurnya tidak dirahasiakan Tuhan kepada seorang dokter.
Selamat ulang tahun, sayang. Tuhan pasti punya kado yang jauh lebih spesial dariku di sana.
Wednesday, 17 July 2013
Baur, Daur.
Hidup sedang nikmat-nikmatnya, meminta untuk benar-benar dinikmati. Jarum grafik sudah siap untuk naik turun, memberi sedikit turbulensi. Bersiap untuk masuk ke zona baru. Menggambar ulang zona aman di tempat baru. Bersiap menghadapi kehilangan-kehilangan sementara. Bertemu orang-orang baru. Berbaur lagi. Mendaur hidup lagi. Meski kelak akan dihadapkan pada kehilangan-kehilangan lainnya.
*sebuah kontemplasi setelah menikmati Daur Baur milik pemusik yang menamai diri mereka Pandai Besi*
*sebuah kontemplasi setelah menikmati Daur Baur milik pemusik yang menamai diri mereka Pandai Besi*
Friday, 28 June 2013
Sore Terakhir
Salju masih terus berjatuhan. Aku masih terpaku di perapian. Instrumental klasik membahana di seluruh ruangan. Meliuk di telinga kiri ku, dan juga di kanan. Kayu bakar mulai jatuh berguguran. Cangkir teh yang sudah sedari tadi masih tak tersentuh tangan, asapnya mengebul layaknya sebuah harapan.
Wajahmu pucat. Pasi. Kaku. Padahal baru saja kita menertawakan kesedihan kita.
"Wajahmu seperti kepiting rebus" katamu, sambil tertawa. Dan aku hanya bisa ikut larut dalam nada-nada tawamu.
Pada saat seperti ini aku tidak tau harus berbuat apa. Menanti Matahari terbit lagi? Ia baru saja berlalu. Menunggu bintang memberi jawaban? Langit bahkan terlalu angkuh memberi ruang untuk bintang-bintang itu berpijar.
Jadilah aku di sini, tertekuk. Mengutuk-ngutuk. Gundah.
Bukan kepergianmu yang seperti ini yang kuharapkan. Berakhir di depan perapian karena kau harus beristirahat.
Selamanya.
Wajahmu pucat. Pasi. Kaku. Padahal baru saja kita menertawakan kesedihan kita.
"Wajahmu seperti kepiting rebus" katamu, sambil tertawa. Dan aku hanya bisa ikut larut dalam nada-nada tawamu.
Pada saat seperti ini aku tidak tau harus berbuat apa. Menanti Matahari terbit lagi? Ia baru saja berlalu. Menunggu bintang memberi jawaban? Langit bahkan terlalu angkuh memberi ruang untuk bintang-bintang itu berpijar.
Jadilah aku di sini, tertekuk. Mengutuk-ngutuk. Gundah.
Bukan kepergianmu yang seperti ini yang kuharapkan. Berakhir di depan perapian karena kau harus beristirahat.
Selamanya.
Thursday, 27 June 2013
Delusi
Jam ke-4, cangkir ke-3.
Aku masih berharap punggungmu berbalik.
Aku terus menunggu, kau tak kunjung datang.
Antitesis sempurna.
Disleksia.
Aku tak pernah bisa mendengar hatimu.
Aku tak bisa membaca gerikmu.
Dan kau bahkan tidak pernah menulis yang kubaca.
Adagio.
Jarum jam seakan tidak pernah berputar.
Aku tetap di sini, menyeruput cangkir kegelisahan.
Menanti yang bahkan tidak pernah ada.
Kau berdelusi, nona.
Aku bergegas bangkit, kereta sudah tiba.
Aku masih berharap punggungmu berbalik.
Aku terus menunggu, kau tak kunjung datang.
Antitesis sempurna.
Disleksia.
Aku tak pernah bisa mendengar hatimu.
Aku tak bisa membaca gerikmu.
Dan kau bahkan tidak pernah menulis yang kubaca.
Adagio.
Jarum jam seakan tidak pernah berputar.
Aku tetap di sini, menyeruput cangkir kegelisahan.
Menanti yang bahkan tidak pernah ada.
Kau berdelusi, nona.
Aku bergegas bangkit, kereta sudah tiba.
Subscribe to:
Posts (Atom)