Aku tidak ingin mati di antara abjad yang kita lafalkan pada malam tiap menanti fajar.
Aku tidak ingin kau mati di sela-sela bait yang sesekali tertunduk kaku.
Dan semoga kau tidak mati dalam sesak nya semesta yang kucipta.
Semoga kita tidak lelah menyusun langkah.
Dan ribuan semoga lainnya kukirimkan pada senja yang memerah.
Monday, 6 October 2014
Monday, 29 September 2014
Sunday, 28 September 2014
Saturday, 30 August 2014
Thursday, 20 February 2014
Entah Apa
Langit masih setia bersinar cerah di atas pohon oak yang mekar menghijau daun-daunnya. Kokoh, tanpa ada yang berguguran. Ia saling bertukar tawa dengan bunga padma yang bermekaran begitu anggun di hadapannya. Sedang langitku abu, kepalaku digelapi entah apa, dipenuhi kebingungan yang entah apa.
Thursday, 12 December 2013
Pahit
Kerongkonganku masih pahit sisa kopi semalam, detak nya masih belum kembali normal, dan sekarang kau menambahkan lagi segelas pahit nya. Kerongkonganku semakin pekat. Ditambah lagi berbatang cerutu yang kau nyalakan. Dan kau menghilang dibalik kebulan asapnya.
Padahal kau masih meyisakan sepiring kerinduan di meja. Labirin dengan tembok terjal yang menjulang tinggi pada jalan keluarnya yang harus kutempuh untuk menujumu. Lalu aku delusional. Kau kembali dengan membawa tikar piknik dan kotak bekal, untuk kita bertamasya. Yang kelak padahal hanya menambah pahit kerongkonganku yang semakin pekat.
Lalu aku memilih untuk menghilangkanmu di antara bait-bait harian pagi yang tak pernah baik. Karena kau memang pahit. Juga rumit. Kerap berkelit. Tapi apa daya, aku suka pahit.
Padahal kau masih meyisakan sepiring kerinduan di meja. Labirin dengan tembok terjal yang menjulang tinggi pada jalan keluarnya yang harus kutempuh untuk menujumu. Lalu aku delusional. Kau kembali dengan membawa tikar piknik dan kotak bekal, untuk kita bertamasya. Yang kelak padahal hanya menambah pahit kerongkonganku yang semakin pekat.
Lalu aku memilih untuk menghilangkanmu di antara bait-bait harian pagi yang tak pernah baik. Karena kau memang pahit. Juga rumit. Kerap berkelit. Tapi apa daya, aku suka pahit.
Wednesday, 11 December 2013
Romansa Warung Kopi
Jalanan basah kuyup dijatuhi hujan. Namun di sini tetap hangat. Di antara kepulan asap rokok, wacana membanjiri meja kita. Di antara pelayan yang berlalu lalang, kepala kita saling antusias untuk disesaki hal-hal menarik. Musik dari speaker terdengar sayup-sayup, tertutup oleh riuh nya wacana.
Lalu kita menyeduh cangkir masing-masing. Tanpa mempedulikan waktu. Membiarkan diri kita hanyut oleh wacana-wacana yang mengalir dengan deras. Sesekali tertawa. Sesekali dahi kita berkerut. Sesekali mencibir. Sesekali diam sambil melihat ke jalan.
Saling melempar sebuah senyum. Lalu kita pulang. Ditemani pekat kopi dan degup kafein, juga menghirup wangi sehabis hujan. Sebuah romansa sederhana dari warung kopi.
Lalu kita menyeduh cangkir masing-masing. Tanpa mempedulikan waktu. Membiarkan diri kita hanyut oleh wacana-wacana yang mengalir dengan deras. Sesekali tertawa. Sesekali dahi kita berkerut. Sesekali mencibir. Sesekali diam sambil melihat ke jalan.
Saling melempar sebuah senyum. Lalu kita pulang. Ditemani pekat kopi dan degup kafein, juga menghirup wangi sehabis hujan. Sebuah romansa sederhana dari warung kopi.
Subscribe to:
Posts (Atom)