Monday, 6 October 2014

Semoga

Aku tidak ingin mati di antara abjad yang kita lafalkan pada malam tiap menanti fajar.
Aku tidak ingin kau mati di sela-sela bait yang sesekali tertunduk kaku.
Dan semoga kau tidak mati dalam sesak nya semesta yang kucipta.
Semoga kita tidak lelah menyusun langkah.
Dan ribuan semoga lainnya kukirimkan pada senja yang memerah.

Monday, 29 September 2014

Pada malam yg ranum dan perbincangan yg larut aku gantungkan sebuah harap.
Pada pagi yg menjelang, kusisipkan sisa-sisa kenangan malam di sela-sela kelopak matamu.

Sunday, 28 September 2014

Dadaku sesak,
Dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran dengan indah
Lengkap dengan kupu-kupu berterbangan kesana-kemari,
Dan juga kau

Saturday, 30 August 2014

Kita terhempas ke tengah lautan
Dadamu sesak
Kepalamu digenangi mawar hitam
Bibirmu membiru

Kita nyanyikan nada-nada depresi
Perutmu meledak,
Kupu-kupu hitam berpacu keluar

Ah, padahal aku hanya ingin berdansa denganmu

Thursday, 20 February 2014

Entah Apa

Langit masih setia bersinar cerah di atas pohon oak yang mekar menghijau daun-daunnya. Kokoh, tanpa ada yang berguguran. Ia saling bertukar tawa dengan bunga padma yang bermekaran begitu anggun di hadapannya. Sedang langitku abu, kepalaku digelapi entah apa, dipenuhi kebingungan yang entah apa.

Thursday, 12 December 2013

Pahit

Kerongkonganku masih pahit sisa kopi semalam, detak nya masih belum kembali normal, dan sekarang kau menambahkan lagi segelas pahit nya. Kerongkonganku semakin pekat. Ditambah lagi berbatang cerutu yang kau nyalakan. Dan kau menghilang dibalik kebulan asapnya.

Padahal kau masih meyisakan sepiring kerinduan di meja. Labirin dengan tembok terjal yang menjulang tinggi pada jalan keluarnya yang harus kutempuh untuk menujumu. Lalu aku delusional. Kau kembali dengan membawa tikar piknik dan kotak bekal, untuk kita bertamasya. Yang kelak padahal hanya menambah pahit kerongkonganku yang semakin pekat.

Lalu aku memilih untuk menghilangkanmu di antara bait-bait harian pagi yang tak pernah baik. Karena kau memang pahit. Juga rumit. Kerap berkelit. Tapi apa daya, aku suka pahit.

Wednesday, 11 December 2013

Romansa Warung Kopi

Jalanan basah kuyup dijatuhi hujan. Namun di sini tetap hangat. Di antara kepulan asap rokok, wacana membanjiri meja kita. Di antara pelayan yang berlalu lalang, kepala kita saling antusias untuk disesaki hal-hal menarik. Musik dari speaker terdengar sayup-sayup, tertutup oleh riuh nya wacana.

Lalu kita menyeduh cangkir masing-masing. Tanpa mempedulikan waktu. Membiarkan diri kita hanyut oleh wacana-wacana yang mengalir dengan deras. Sesekali tertawa. Sesekali dahi kita berkerut. Sesekali mencibir. Sesekali diam sambil melihat ke jalan.

Saling melempar sebuah senyum. Lalu kita pulang. Ditemani pekat kopi dan degup kafein, juga menghirup wangi sehabis hujan. Sebuah romansa sederhana dari warung kopi.

Monday, 18 November 2013

Aku takut kamu jadi robot.
Padahal robot saja sekarang di-manusia-kan.
Aku kasihan kalau hidup kamu hanya seindah kubikel.
Padahal di luar sana ada taman yang indah.