Wednesday, 26 June 2013

Nona Balerina; Resah

“Aku rindu. Entah pada apa. Aku merindukan sesuatu”, gadis itu bercengkrama dengan tembok kamarnya. Ditemani kupu-kupu dalam toples kaca. Hujan masih belum lelah turun. Hatinya pun masih sibuk berseteru, membawa hawa muram pada dinding-dinding ruangan.

“Aku lelah”, Ia kembali berbisik. Ia bangkit, menjinjitkan kaki kiri, on pointe. Lalu mengangkat kaki kanan nya dan juga kedua tangannya. The Nutcracker. Berputar. Lalu Ia melompat, the grand jet. Dihempaskannya toples kaca kesayangannya. Perih. Ia kembali berbaring. Matanya berpacu dengan langit menitikkan air. Isak tangis nya berpacu riuh dengan rintikan hujan.
Kawanan Bintang di langit masih belum mampu mengerucuti kesedihannya.

2 bait pengantar sebuah cerita yang tidak selesai.

Monday, 24 June 2013

Kita bertemu pada suatu sesak ruangan yang penuh gelak tawa. Sesekali sepasang mataku beradu dengan sepasang milikmu. Sajak-sajak lama di kepalaku kembali berkumandang.

Selesai. Matahari datang terlalu cepat.

Monday, 20 May 2013

Cangkir yang Tidak Lagi Bisa dibagi Berdua

Maaf, ketika aku menumpahkan secangkir keceriaanmu. Menuangkan kopi pahit yang kau enggan dari teko kesukaanku. Kerap tidak menabur gula kebahagiaan pada cangkir kita. Yang ada hanya kegetiran. Tanganku pun kaku, tanpa bisa memapahmu dalam kegelisahanmu. Hingga akhirnya kau lelah.
Dan pada akhirnya, sekarang, kita menikmati cangkir kita masing-masing. Cangkir yang sudah tidak lagi bisa kita nikmati berdua.
Terimakasih untuk cangkir-cangkir manis selama ini. Kau berhak menikmati dunia yang ceria layaknya cangkir kesukaanmu. Pergilah, kejar kupu-kupu manis di taman itu. Bermain sesuka hatimu menikmati pijaran hangat sinar mentari, tanpa lelah, tanpa ada bayang kegelisahan.

Sunday, 12 May 2013

Sesekali kita perlu terjatuh, duduk manis menikmati setiap denyutan perihnya.
Membiarkan impuls sakit menuntunmu ke lantai nestapa, berdansa muram,
hingga lelah.
Dan sampai pada pesta puncak, pikiran-pikiran liar berlarian di kepala untuk dipunguti.
Kemudian sadar betapa naifnya kita selama ini.

Friday, 29 March 2013

Tuan Bertuksedo

Tuan bertuksedo hitam gemar berkelana. Mencari sesuatu entah apa.
Menjamahi satu per-satu kereta. Kemudian pulang ke stasiun yang sama.
Sampai suatu ketika tuan bertuksedo hitam lupa jalan pulang.
Tidak ada pesan yang singgah.
Tuan bertuksedo hitam rindu rumah yang sudah jauh entah dimana.
Kini Ia hanya bisa mengirim doa penuh kerinduan, kepada entah siapa.

Balerina Muram

Ia hanya lelah menari. Lelah mengikuti alunan nada yang kencang dan turun dalam seketika.
Nona balerina tidak tau harus mengadu pada apa.
Ia hanya lelah. Nona balerina berlari, menuju entah apa. Ia hanya ingin pergi jauh.
Nona balerina menengguk segelas pilu, menanamkan sebuah bibit kebencian pada sebuah rindu.

Pada saat langit diruntuhi kerinduan,
Nona balerina hanya bisa menunggu di stasiun tanpa bisa berbuat apa-apa. Tanpa berharap apa-apa.
Nona balerina tidak mampu membenci, Ia hanya bisa terus menari dibawah alunan musik muram menyayat nadi.

Sunday, 17 March 2013

Menyederhanakan Mimpi


Aku ingin menyederhanakan mimpi-mimpiku. Sederhana layaknya senja; sederhana dan indah. Aku ingin menyederhanakan mimpiku. Duduk dan bercengkrama suka ria tanpa ada beban bersama orang-orang yang pernah membuatku bahagia.
Aku ingin menyederhanakan mimpiku.
Mereka bilang aku boleh bermimpi setinggi-tingginya. Dan aku disini, terus bermimpi dengan sederhana.

Saturday, 9 February 2013

Pelan-pelan, sayang. Perhatikan langkahmu.
Jangan sampai terjerat.
Jalan setapak kerap menyimpan duka. Ketika aku hanya memandangi punggungmu,
tubuhmu kemudian tampak seperti siluet. Dan kau menghilang dibalik cahaya terang diujung jalan.

Tapi aku yg berdiri dibelakangmu, takkan membiarkan kau pergi.
Kelak siluet itu adalah siluet kita berdua.
Kemudian kita menghilang dengan kecepatan cahaya,
menembus dimensi lain pada semesta kita.
Dimensi dimana hanya ada air mata bahagia.
Dimensi dimana kehilangan kebahagiaan adalah mitos.
Dimensi dimana duka adalah hal tabu.

Sayang, kelak derap langkah kita akan seirama.
Kelak irama-irama langkah kita akan menerpa debu-debu keraguan.
Kelak kita tak akan mengenal rasa lelah,
untuk terus melangkah bersama,
menuju semesta kita.