Jam ke-4, cangkir ke-3.
Aku masih berharap punggungmu berbalik.
Aku terus menunggu, kau tak kunjung datang.
Antitesis sempurna.
Disleksia.
Aku tak pernah bisa mendengar hatimu.
Aku tak bisa membaca gerikmu.
Dan kau bahkan tidak pernah menulis yang kubaca.
Adagio.
Jarum jam seakan tidak pernah berputar.
Aku tetap di sini, menyeruput cangkir kegelisahan.
Menanti yang bahkan tidak pernah ada.
Kau berdelusi, nona.
Aku bergegas bangkit, kereta sudah tiba.
Thursday, 27 June 2013
Wednesday, 26 June 2013
Nona Balerina; Resah
“Aku rindu. Entah pada apa. Aku
merindukan sesuatu”, gadis itu bercengkrama dengan tembok kamarnya. Ditemani
kupu-kupu dalam toples kaca. Hujan masih belum lelah turun. Hatinya pun masih
sibuk berseteru, membawa hawa muram pada dinding-dinding ruangan.
“Aku lelah”, Ia kembali berbisik.
Ia bangkit, menjinjitkan kaki kiri, on pointe. Lalu mengangkat kaki kanan nya dan juga kedua
tangannya. The Nutcracker. Berputar. Lalu Ia
melompat, the grand jet.
Dihempaskannya toples kaca kesayangannya. Perih. Ia kembali berbaring. Matanya
berpacu dengan langit menitikkan air. Isak tangis nya berpacu riuh dengan rintikan hujan.
Kawanan Bintang di langit masih belum mampu mengerucuti kesedihannya.
2 bait pengantar sebuah cerita yang tidak selesai.
Monday, 24 June 2013
Monday, 20 May 2013
Cangkir yang Tidak Lagi Bisa dibagi Berdua
Maaf, ketika aku menumpahkan secangkir keceriaanmu. Menuangkan kopi pahit yang kau enggan dari teko kesukaanku. Kerap tidak menabur gula kebahagiaan pada cangkir kita. Yang ada hanya kegetiran. Tanganku pun kaku, tanpa bisa memapahmu dalam kegelisahanmu. Hingga akhirnya kau lelah.
Dan pada akhirnya, sekarang, kita menikmati cangkir kita masing-masing. Cangkir yang sudah tidak lagi bisa kita nikmati berdua.
Terimakasih untuk cangkir-cangkir manis selama ini. Kau berhak menikmati dunia yang ceria layaknya cangkir kesukaanmu. Pergilah, kejar kupu-kupu manis di taman itu. Bermain sesuka hatimu menikmati pijaran hangat sinar mentari, tanpa lelah, tanpa ada bayang kegelisahan.
Sunday, 12 May 2013
Friday, 29 March 2013
Tuan Bertuksedo
Tuan bertuksedo hitam gemar berkelana. Mencari sesuatu entah apa.
Menjamahi satu per-satu kereta. Kemudian pulang ke stasiun yang sama.
Sampai suatu ketika tuan bertuksedo hitam lupa jalan pulang.
Tidak ada pesan yang singgah.
Tuan bertuksedo hitam rindu rumah yang sudah jauh entah dimana.
Kini Ia hanya bisa mengirim doa penuh kerinduan, kepada entah siapa.
Menjamahi satu per-satu kereta. Kemudian pulang ke stasiun yang sama.
Sampai suatu ketika tuan bertuksedo hitam lupa jalan pulang.
Tidak ada pesan yang singgah.
Tuan bertuksedo hitam rindu rumah yang sudah jauh entah dimana.
Kini Ia hanya bisa mengirim doa penuh kerinduan, kepada entah siapa.
Balerina Muram
Ia hanya lelah menari. Lelah mengikuti alunan nada yang kencang dan turun dalam seketika.
Nona balerina tidak tau harus mengadu pada apa.
Ia hanya lelah. Nona balerina berlari, menuju entah apa. Ia hanya ingin pergi jauh.
Nona balerina menengguk segelas pilu, menanamkan sebuah bibit kebencian pada sebuah rindu.
Pada saat langit diruntuhi kerinduan,
Nona balerina hanya bisa menunggu di stasiun tanpa bisa berbuat apa-apa. Tanpa berharap apa-apa.
Nona balerina tidak mampu membenci, Ia hanya bisa terus menari dibawah alunan musik muram menyayat nadi.
Nona balerina tidak tau harus mengadu pada apa.
Ia hanya lelah. Nona balerina berlari, menuju entah apa. Ia hanya ingin pergi jauh.
Nona balerina menengguk segelas pilu, menanamkan sebuah bibit kebencian pada sebuah rindu.
Pada saat langit diruntuhi kerinduan,
Nona balerina hanya bisa menunggu di stasiun tanpa bisa berbuat apa-apa. Tanpa berharap apa-apa.
Nona balerina tidak mampu membenci, Ia hanya bisa terus menari dibawah alunan musik muram menyayat nadi.
Sunday, 17 March 2013
Menyederhanakan Mimpi
Aku ingin menyederhanakan mimpi-mimpiku. Sederhana layaknya senja; sederhana dan indah. Aku ingin menyederhanakan mimpiku. Duduk dan bercengkrama suka ria tanpa ada beban bersama orang-orang yang pernah membuatku bahagia.
Aku ingin menyederhanakan mimpiku.
Mereka bilang aku boleh bermimpi setinggi-tingginya. Dan aku disini, terus bermimpi dengan sederhana.
Subscribe to:
Posts (Atom)
