Monday, 1 June 2015
Tentang Laut
Besok aku akan bercerita tentang laut padamu. Tentang letihnya aku berlayar. Tentang betapa merindunya aku akan sebuah pulang. Tentang betapa bukan suatu yang indah ketika aku berlabuh, yang bermesraan di kepalaku justru adalah rumah. Rumah yang sebenar-benarnya pulang. Dan, kau, adalah ayat ketiga yang kulantunkan dalam doaku di tengah luasnya lautan itu.
Sunday, 28 December 2014
Rumah Itu Barangkali Sudah Mati
Kau bepergian menghirup dunia.
Berlalu-lalang di sesaknya keriaan yang bukan kepalang.
Berkali-kali tersesat.
Menambah barak luka di salah satu sudut ingatan itu.
Lalu kau mendamba pulang.
Tetapi kau tidak tahu dimana rumah itu.
Rumah yang kau siasati di barak ingatanmu itu,
rumah yang barangkali sudah mati kala kau bepergian.
Wednesday, 12 November 2014
Tentang Kau. Tentang Aku. Lalu Kita.
Hai, nona.
Apapun warna langitmu hari ini, aku berharap ia cukup
bersahabat. Cukup baik untuk memberimu ruang bergerak bebas, sebagaimana yang
kau suka. Tanpa ada yang mencoreng lengkung indah senyum mu.
Sementara langitku di sini sedang redup.
Lalu aku berjalan sedikit ke belakang, aku menemukan
potretmu dan semesta yang sedang kau cipta, semesta yang tidak begitu asing
bagiku. kugantung potretmu di langitku, ‘hampiri dia’ bisiknya. Namun jalan menujumu adalah tembok terjal.
Sementara aku tidak mampu mendaki nya. Kubiarkan waktu mengikis dinding-dinding
tembok terjal itu.
Dan aku menemukanmu di baliknya. Langitku bergetar. Kepalaku
dihujani ribuan semoga. Aku mencoba berteduh di semesta yang kau ciptakan. Kau
memberiku secangkir obrolan hangat. Dan teduhlah hatiku. Lalu aku mencoba
berjalan-jalan di semestamu. Kau dengan senang hati menuntun langkah ku di
dunia mu.
Lalu aku ajak kau mampir di semestaku. Kujamu kau dengan
sepiring isi kepalaku yang kemudian kau balas dengan tawa dari bibirmu. Aku
senang melihatmu tertawa bahagia.
Namun kemudian dadaku sesak. Penuh bunga yang bermekaran,
lengkap dengan kupu-kupu yang berterbangan dengan indah nya.
Sejak saat itu aku tau, aku ingin menyatukan langitku dengan
langitmu. Langitmu yang tidak begitu asing bagiku, dengan selusin lebih hal
yang juga kau temukan di langitku.
Seketika aku berharap Tuhan punya rencana yang sama
denganku. Membiarkanku meneduhi harimu. Tidak membiarkan aku mati dalam
bait-bait malam.
Orang-orang menyebutnya cinta.
Aku jatuh cinta dengan segala bait yang kita bagi. Aku jatuh
cinta dengan langkah yang kita tuju bersama. Aku jatuh cinta di antara helai
rambutmu yang tersandar di bahuku. Aku jatuh cinta di antara jemari kita yang
saling beradu.
Monday, 6 October 2014
Semoga
Aku tidak ingin mati di antara abjad yang kita lafalkan pada malam tiap menanti fajar.
Aku tidak ingin kau mati di sela-sela bait yang sesekali tertunduk kaku.
Dan semoga kau tidak mati dalam sesak nya semesta yang kucipta.
Semoga kita tidak lelah menyusun langkah.
Dan ribuan semoga lainnya kukirimkan pada senja yang memerah.
Aku tidak ingin kau mati di sela-sela bait yang sesekali tertunduk kaku.
Dan semoga kau tidak mati dalam sesak nya semesta yang kucipta.
Semoga kita tidak lelah menyusun langkah.
Dan ribuan semoga lainnya kukirimkan pada senja yang memerah.
Monday, 29 September 2014
Sunday, 28 September 2014
Saturday, 30 August 2014
Thursday, 20 February 2014
Entah Apa
Langit masih setia bersinar cerah di atas pohon oak yang mekar menghijau daun-daunnya. Kokoh, tanpa ada yang berguguran. Ia saling bertukar tawa dengan bunga padma yang bermekaran begitu anggun di hadapannya. Sedang langitku abu, kepalaku digelapi entah apa, dipenuhi kebingungan yang entah apa.
Subscribe to:
Posts (Atom)