Sunday, 28 December 2014

Rumah Itu Barangkali Sudah Mati

Kau bepergian menghirup dunia.
Berlalu-lalang di sesaknya keriaan yang bukan kepalang.
Berkali-kali tersesat.
Menambah barak luka di salah satu sudut ingatan itu.

Lalu kau mendamba pulang.
Tetapi kau tidak tahu dimana rumah itu.
Rumah yang kau siasati di barak ingatanmu itu,
rumah yang barangkali sudah mati kala kau bepergian.

Wednesday, 12 November 2014

Tentang Kau. Tentang Aku. Lalu Kita.

Hai, nona.

Apapun warna langitmu hari ini, aku berharap ia cukup bersahabat. Cukup baik untuk memberimu ruang bergerak bebas, sebagaimana yang kau suka. Tanpa ada yang mencoreng lengkung indah senyum mu.
Sementara langitku di sini sedang redup.

Lalu aku berjalan sedikit ke belakang, aku menemukan potretmu dan semesta yang sedang kau cipta, semesta yang tidak begitu asing bagiku. kugantung potretmu di langitku, ‘hampiri dia’ bisiknya.  Namun jalan menujumu adalah tembok terjal. Sementara aku tidak mampu mendaki nya. Kubiarkan waktu mengikis dinding-dinding tembok terjal itu.

Dan aku menemukanmu di baliknya. Langitku bergetar. Kepalaku dihujani ribuan semoga. Aku mencoba berteduh di semesta yang kau ciptakan. Kau memberiku secangkir obrolan hangat. Dan teduhlah hatiku. Lalu aku mencoba berjalan-jalan di semestamu. Kau dengan senang hati menuntun langkah ku di dunia mu.
Lalu aku ajak kau mampir di semestaku. Kujamu kau dengan sepiring isi kepalaku yang kemudian kau balas dengan tawa dari bibirmu. Aku senang melihatmu tertawa bahagia.

Namun kemudian dadaku sesak. Penuh bunga yang bermekaran, lengkap dengan kupu-kupu yang berterbangan dengan indah nya.

Sejak saat itu aku tau, aku ingin menyatukan langitku dengan langitmu. Langitmu yang tidak begitu asing bagiku, dengan selusin lebih hal yang juga kau temukan di langitku.

Seketika aku berharap Tuhan punya rencana yang sama denganku. Membiarkanku meneduhi harimu. Tidak membiarkan aku mati dalam bait-bait malam.

Orang-orang menyebutnya cinta.

Aku jatuh cinta dengan segala bait yang kita bagi. Aku jatuh cinta dengan langkah yang kita tuju bersama. Aku jatuh cinta di antara helai rambutmu yang tersandar di bahuku. Aku jatuh cinta di antara jemari kita yang saling beradu.

Dan, kau adalah jawaban dari langitku yang redup. Untuk membagi hidup.

Monday, 6 October 2014

Semoga

Aku tidak ingin mati di antara abjad yang kita lafalkan pada malam tiap menanti fajar.
Aku tidak ingin kau mati di sela-sela bait yang sesekali tertunduk kaku.
Dan semoga kau tidak mati dalam sesak nya semesta yang kucipta.
Semoga kita tidak lelah menyusun langkah.
Dan ribuan semoga lainnya kukirimkan pada senja yang memerah.

Monday, 29 September 2014

Pada malam yg ranum dan perbincangan yg larut aku gantungkan sebuah harap.
Pada pagi yg menjelang, kusisipkan sisa-sisa kenangan malam di sela-sela kelopak matamu.

Sunday, 28 September 2014

Dadaku sesak,
Dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran dengan indah
Lengkap dengan kupu-kupu berterbangan kesana-kemari,
Dan juga kau

Saturday, 30 August 2014

Kita terhempas ke tengah lautan
Dadamu sesak
Kepalamu digenangi mawar hitam
Bibirmu membiru

Kita nyanyikan nada-nada depresi
Perutmu meledak,
Kupu-kupu hitam berpacu keluar

Ah, padahal aku hanya ingin berdansa denganmu

Thursday, 20 February 2014

Entah Apa

Langit masih setia bersinar cerah di atas pohon oak yang mekar menghijau daun-daunnya. Kokoh, tanpa ada yang berguguran. Ia saling bertukar tawa dengan bunga padma yang bermekaran begitu anggun di hadapannya. Sedang langitku abu, kepalaku digelapi entah apa, dipenuhi kebingungan yang entah apa.

Thursday, 12 December 2013

Pahit

Kerongkonganku masih pahit sisa kopi semalam, detak nya masih belum kembali normal, dan sekarang kau menambahkan lagi segelas pahit nya. Kerongkonganku semakin pekat. Ditambah lagi berbatang cerutu yang kau nyalakan. Dan kau menghilang dibalik kebulan asapnya.

Padahal kau masih meyisakan sepiring kerinduan di meja. Labirin dengan tembok terjal yang menjulang tinggi pada jalan keluarnya yang harus kutempuh untuk menujumu. Lalu aku delusional. Kau kembali dengan membawa tikar piknik dan kotak bekal, untuk kita bertamasya. Yang kelak padahal hanya menambah pahit kerongkonganku yang semakin pekat.

Lalu aku memilih untuk menghilangkanmu di antara bait-bait harian pagi yang tak pernah baik. Karena kau memang pahit. Juga rumit. Kerap berkelit. Tapi apa daya, aku suka pahit.