Friday, 21 January 2011

day #8; terlalu buntu

ingin kuhempaskan tembok itu
tembok penghalang yg tinggi
penghalang tamanku, dan tamanmu
membutakan pelangi di mata

kupanjati tembok tinggi itu
meski harus terjatuh
kehilangan kekuatan genggam tanganku,
hingga harus terbaring di ranjangku

kau tahu untuk apa?
untuk mawar yg anggun
taman itu sangat tertutup
untuk orang terdekat sekalipun

sudah sejak lama aku menyukai mawar, walaupun terkadang aku bukan sosok yg tepat untuk merawat mawar yg begitu mempesona, yg sangat indah dipandang mata. aku ingat, ketika setangkai mawar yg telah layu, saat kami bersenandung dibawah tenda yg sama. hanyut bersama dalam lautan nuansa classic, dengan hujan yg menari suka cita diantara kami.

mawar dibalik tembok tinggi itu?aku tak tahu pasti. bahkan sang empu mawar tak terlihat mengizinkan siapapun menyentuh mawarnya, untuk melihat mungkin saja masih diberikan suatu izin.

dan semoga, mawar itu kugenggam, merawatnya dengan baik, bersenandung bersama, saling menghangatkan jiwa ditengah guyuran hujan.

-aku tak tahu apa yg aku tulis, terlalu buntu untukku melontarkan kata kata.entahlah, mungkin aku telah terbunuh oleh samurai bernama senyuman itu-

NB:surat ini tanpa tujuan

Thursday, 20 January 2011

day #7; Andai Detik itu Tidak Bergerak

Aku lelah akan rutinitas
Melakukan hal monoton berulang ulang
Menghantui setiap sudut otak
Hingga titik frustasi memeluk diri ini

Aku lelah harus terus berlari
Menjauh dari kejaran detik
Bangkit dari serpihan mimpi
Untuk sesuatu yg membosankan

Andai saja detik itu tidak bergerak, mungkin aku akan lebih menikmati hari hariku. Bermain di taman bunga bersama mereka. Sama sama memeluk erat pelangi di atas gumpalan awan, saling melempar tawa, dan tentu saja untuk secangkir kafein.

Andai saja detik itu tidak bergerak, aku akan lebih banyak menyajikan secangkir tawa dengan mu, sepiring snack berhiaskan senyuman.

Dan andai saja detik itu tidak bergerak, bersama kita kan duduk di jarumnya atas nama kebahagiaan tanpa bayang bayang setan rutinitas

Wednesday, 19 January 2011

day #6; Surat Singkat Untuk 2 Jiwa

Selamat malam, raungan sepi. Selamat bersenandung, jiwa yg mengambang di langit sana. Dan ucapan khusus melayang kepada kalian, 2 jiwa yg mungkin tlah tau apa maksud surat kali ini.

Entah kata apa yg pantas aku ukirkan atas apa yg telah lalu. Berawal dari accident, berlanjut bagai untaian rantai berparaskan mawar. Bersatu dalam hitungan jam, melupakan waktu dan terus berbagi suapan awan. Menari bersama, melantunkan tawa bernada kesenangan bersama. Tak pelak berbagi tetesan darah.

Sudahlah, aku enggan menambahkan warna merah di muka kalian. Semoga tetap saling bersama, tunggu, semoga saja kalian menginginkan sama dengan yg kuinginkan, dan kita menginginkan hal yg sama, dengan satu tujuan, kebersamaan.

Tuesday, 18 January 2011

day #5 ; Bisikan 10 Tahun

Hai, jiwa dan ragaku 10 tahun yg akan datang.
Bagaimana kabar langit disana?
Apakah langit sekarang dengan langitmu disana sama indahnya?
Semoga langitmu jauh lebih menarik dari langit yg sekarang.

Aku tak bisa membayangkan dirimu disana
Dengan berantakanku sekarang, semoga kau lebih sigap
Apakah kau mencapai karir mu seperti yg kau impikan dulu?
Kuharap begitu,
Dan semoga kau telah menginjakkan kakimu di tanah hijau-putih-merah

Ohya, bagaimana dengan titik terang itu?
Titik terang yg kutulis di hari pertama,
Kuharap dia memang semenawan yg "kita" harapkan
Apakah dia datang dari masaku?atau masamu?

Yah, mungkin aku terlalu banyak bertanya kepada dirimu, tapi aku tak pelak selalu menyisipkan berbagai doa untukmu. Aku ingin kau membalas suratku ini, di masamu, dengan titik terang itu disampingmu, tentu dengan senyuman jiwa yg penuh kebahagiaan. Dan kuharap. Kusudahi surat ini, surat untuk 10 tahun yg akan datang, 18 January 2021

Monday, 17 January 2011

day #4; Senandung Pesan Rindu

Selamat Pagi Senin
Selamat mengutuk hari
Selamat membuka semangat baru
Selamat bersenandung indah

Pagi, hujan, dingin, gelap
Di tengah ruangan kelas,
tanpa ada penerangan lampu
Aku, bersama rintikan hujan menyenandungkan rindu

Rindu sebuah kisah klasik kita
Aku, kau, dan juga mereka
Yang pernah saling bersama
Dan juga menenun kisah bersama

Apa kabar kalian saat ini?
Kalian yg dulu,
saling satu tujuan denganku
Kalian yg mungkin sama rasanya denganku

Aku hanya mampu menulis pesan rindu yg singkat kepada kalian, kalian yg bersama menulis sebuah kisah denganku. Bersama rintikan hujan, aku senandungkan kerinduan kepada kalian, atau mungkin kau, yg datang kembali di layarku. Selamat beraktivitas, dalam naungan rindu.

Sunday, 16 January 2011

day #3; Selamat Kembali, Cahaya Pembunuh

Hai, selamat pagi. Tak ada salahnya kuucapkan selamat pagi untukmu setelah gelap dimakan terang, kan, pembunuh? Dan juga setelah sekian lama kau tak muncul di layar itu, dan ya, aku rasa ucapan selamat ku sah sah saja.

Minggu Pagi, bersamaan dengan munculnya terang kau kembali disini, di layar itu. Dengan berbagai keahlianmu untuk membunuhku, dan aku kan tetap melawanmu, pembunuh. Bisa dibilang kau tlah lama menghilang dari layar itu, entah ke dimensi mana engkau berkelana, aku pun merasa kosong, abu abu, aku tak mengeluarkan sepeser tenagaku
selama kau menghilang.



dan sekarang, kau hadir kembali. Mari bertempur, sejauh apa kau bisa meluluh lantakkan diriku, ataukah kau yg dengan mudah kutaklukkan? yg pasti, Selamat kembali, cahaya pembunuh daya injak bumi-ku. Kepakkanlah sayapmu, dan terbanglah di cakrawala sana, bawa serta ku melayang dan tentunya kuberharap kau tak menghempaskan jasad ku ini dari ketinggian sana.

Saturday, 15 January 2011

day #2 ; Darah Nyonya Tua

Keanggunan sang Nyonya, mengalirkan Hitam-Putih diatas altar hijau penuh gemuruh antusias. Sang Pangeran, mengemban darah yg sama, dibawah bendera sportifitas, menarikan keindahan yg tak kalah anggun dengan paras sang Nyonya.

Aku, terjun ke medan perang, tak peduli hati akan tertindas, ku tutup telinga atas teriakan nada minor mereka, membius diriku sendiri atas nama sang Nyonya, demi Darah Nyonya Tua.

Bersama mereka, aku akan menjadi Pangeran ke 12, menjunjung tinggi Darah Nyonya Tua dan melesakkan namanya ke Dunia, kembali menjadi yg pertama.

Friday, 14 January 2011

day #1 ; teruntukmu, titik terang dalam gelapku

Kupejamkan mataku, aku bertemu gelap
Saat kubuka mataku, terlalu silau untuk pupil ini
Kupejamkan kembali sepasang mataku
Menanti sebuah titik terang, yg tentu saja itu kamu

Engkau, setitik cahaya dalam gelapku
Menyeretku dari keterpurukan,
Serta mengajarkanku mengalahkan terik duniawi
Kau mengajarkanku terang, sebagaimana keahlianmu

Engkau, sang pembunuh
Pembunuh daya injak bumi-ku
Buatku melayang, mengambang di udara
Aku beruntung, bisa memeluk pelangi

Ya, itu kau, sesosok yg mungkin tak kukenali, seberkas cahaya terang, dalam gelapku. Mari berjalan bersama, menelusuri altar kegelapan, dengan terangmu, Cahaya-ku