Untuk kamu, pendampingku di masa yg akan datang.
Tetaplah menari dalam keanggunanmu
Berpijarlah sebagaimana mestinya
Tetaplah satukan jemarimu denganku
Tetaplah menari dalam genggamanku
Dan kalau bisa, semoga kita tak bernasib seperti sebungkus roti. Yg harus menghilang pada tanggal tertentu. Semoga kita tak harus kadaluarsa dalam secangkir kafein. Menelan segala kepahitan, keracunan, dan kemudian benar benar hanyut dalam gelap.
Kita memang tak harus selalu mengambang di udara, tak harus selalu memeluk pelangi yg sama. Tapi percayalah, bernasib seperti sebungkus roti bukan akhir yg baik untuk kita, pelakon keindahan mawar.
Monday, 24 January 2011
Sunday, 23 January 2011
day #10; Kita tak Perlu Menjadi Romeo-Juliet
untukmu, titik terang dalam gelap-ku.
entah besok, atau lusa, atau kapan, kita akan bertemu. aku yakin. kelak aku akan menggenggam tanganmu. menyalurkan kehangatan melalui jemari kita yg saling menyatu. kelak, kita akan bermain di taman bunga yg sama. saling mencari didalam gelap, atau bahkan berdua kita tersesat didalam gelap.
dan aku tak akan menjadi Romeo untukmu, karena kau juga tak perlu menjadi Juliet untukku. kau tak perlu mati suri untukku, dan aku mungkin tak perlu melesakkan nyawaku ke rumahnya untukmu. cukuplah kisah kita saja.
kita tak perlu penulis lain, biarlah buku itu kita yg mengisinya. kita tak perlu bersembunyi dalam kerumunan, kita tak perlu menjadi pembangkang. cukup pada kisah kita, 2 insan pelakon keindahan mawar dan kepahitan kafein.
Kita tak perlu menjadi Romeo-Juliet untuk sebuah kisah romantik
entah besok, atau lusa, atau kapan, kita akan bertemu. aku yakin. kelak aku akan menggenggam tanganmu. menyalurkan kehangatan melalui jemari kita yg saling menyatu. kelak, kita akan bermain di taman bunga yg sama. saling mencari didalam gelap, atau bahkan berdua kita tersesat didalam gelap.
dan aku tak akan menjadi Romeo untukmu, karena kau juga tak perlu menjadi Juliet untukku. kau tak perlu mati suri untukku, dan aku mungkin tak perlu melesakkan nyawaku ke rumahnya untukmu. cukuplah kisah kita saja.
kita tak perlu penulis lain, biarlah buku itu kita yg mengisinya. kita tak perlu bersembunyi dalam kerumunan, kita tak perlu menjadi pembangkang. cukup pada kisah kita, 2 insan pelakon keindahan mawar dan kepahitan kafein.
Kita tak perlu menjadi Romeo-Juliet untuk sebuah kisah romantik
Saturday, 22 January 2011
day #9; Sebuah Kesederhanaan
bisa dibilang aku orang yg tidak punya kecukupan kreativitas, bahkan inspirasi pun sulit untuk aku temukan. terlebih saat semuanya gelap, aku meng-abu, sulit melihat titik terang.
di saat aku harus mengecat sebuah dinding yg putih dan masih sangat bersih, aku mungkin akan kesulitan untuk membuatnya terlihat indah. jika memang tak tau harus apa, mungkin aku hanya akan memadukannya dengan hitam, tampak sederhana.
mungkin semua orang meninginkan sesuatu yg ellegant, tampak mengilap dalam keramaian. menjadi sebuah perbincangan hangat dalam perkumpulan penikmat cangkir hangat. menjadi daftar terbanyak dicari dalam bursa pemasokan mawar. tapi, apa semua hal harus ellegant?
mungkin akan ada masanya, dimana kesederhanaan akan mengalahkan kilapan ellegant. kesederhanaan itu seolah menjadi magnet bagi lampu sorot. menyorot tiap langkah, tiap kata, tiap tawa dan tiap kreasi yg dihasilkannya.
melalui sebuah kesederhanaan, mungkin dinding putih bersih itu akan tampak menarik. menarik lalu lalang kerumunan orang, termasuk hewan peliharaan, yg mungkin bahkan enggan membuang hajatnya di dinding itu.
dan dari itu, mungkin kelak sebuah kesederhanaan akan mengisi sebuah kegelapan, menjadi setitik cahaya dalam gelap, menjadi pemanis pahitnya kopi, dan menjadi yg pertama dan mungkin juga yg terakhir.
menjadi yg pertama menyapa di pagi hari, menjadi penyapa terakhir di dinginnya malam. menghangatkan jiwa, menyejukkan hati. dan yg lebih penting, menjadi sumber inspirasi dalam sebuah kebuntuan.
Aku, akan menantikan saat itu tiba
di saat aku harus mengecat sebuah dinding yg putih dan masih sangat bersih, aku mungkin akan kesulitan untuk membuatnya terlihat indah. jika memang tak tau harus apa, mungkin aku hanya akan memadukannya dengan hitam, tampak sederhana.
mungkin semua orang meninginkan sesuatu yg ellegant, tampak mengilap dalam keramaian. menjadi sebuah perbincangan hangat dalam perkumpulan penikmat cangkir hangat. menjadi daftar terbanyak dicari dalam bursa pemasokan mawar. tapi, apa semua hal harus ellegant?
mungkin akan ada masanya, dimana kesederhanaan akan mengalahkan kilapan ellegant. kesederhanaan itu seolah menjadi magnet bagi lampu sorot. menyorot tiap langkah, tiap kata, tiap tawa dan tiap kreasi yg dihasilkannya.
melalui sebuah kesederhanaan, mungkin dinding putih bersih itu akan tampak menarik. menarik lalu lalang kerumunan orang, termasuk hewan peliharaan, yg mungkin bahkan enggan membuang hajatnya di dinding itu.
dan dari itu, mungkin kelak sebuah kesederhanaan akan mengisi sebuah kegelapan, menjadi setitik cahaya dalam gelap, menjadi pemanis pahitnya kopi, dan menjadi yg pertama dan mungkin juga yg terakhir.
menjadi yg pertama menyapa di pagi hari, menjadi penyapa terakhir di dinginnya malam. menghangatkan jiwa, menyejukkan hati. dan yg lebih penting, menjadi sumber inspirasi dalam sebuah kebuntuan.
Aku, akan menantikan saat itu tiba
Friday, 21 January 2011
day #8; terlalu buntu
ingin kuhempaskan tembok itu
tembok penghalang yg tinggi
penghalang tamanku, dan tamanmu
membutakan pelangi di mata
kupanjati tembok tinggi itu
meski harus terjatuh
kehilangan kekuatan genggam tanganku,
hingga harus terbaring di ranjangku
kau tahu untuk apa?
untuk mawar yg anggun
taman itu sangat tertutup
untuk orang terdekat sekalipun
sudah sejak lama aku menyukai mawar, walaupun terkadang aku bukan sosok yg tepat untuk merawat mawar yg begitu mempesona, yg sangat indah dipandang mata. aku ingat, ketika setangkai mawar yg telah layu, saat kami bersenandung dibawah tenda yg sama. hanyut bersama dalam lautan nuansa classic, dengan hujan yg menari suka cita diantara kami.
mawar dibalik tembok tinggi itu?aku tak tahu pasti. bahkan sang empu mawar tak terlihat mengizinkan siapapun menyentuh mawarnya, untuk melihat mungkin saja masih diberikan suatu izin.
dan semoga, mawar itu kugenggam, merawatnya dengan baik, bersenandung bersama, saling menghangatkan jiwa ditengah guyuran hujan.
-aku tak tahu apa yg aku tulis, terlalu buntu untukku melontarkan kata kata.entahlah, mungkin aku telah terbunuh oleh samurai bernama senyuman itu-
NB:surat ini tanpa tujuan
tembok penghalang yg tinggi
penghalang tamanku, dan tamanmu
membutakan pelangi di mata
kupanjati tembok tinggi itu
meski harus terjatuh
kehilangan kekuatan genggam tanganku,
hingga harus terbaring di ranjangku
kau tahu untuk apa?
untuk mawar yg anggun
taman itu sangat tertutup
untuk orang terdekat sekalipun
sudah sejak lama aku menyukai mawar, walaupun terkadang aku bukan sosok yg tepat untuk merawat mawar yg begitu mempesona, yg sangat indah dipandang mata. aku ingat, ketika setangkai mawar yg telah layu, saat kami bersenandung dibawah tenda yg sama. hanyut bersama dalam lautan nuansa classic, dengan hujan yg menari suka cita diantara kami.
mawar dibalik tembok tinggi itu?aku tak tahu pasti. bahkan sang empu mawar tak terlihat mengizinkan siapapun menyentuh mawarnya, untuk melihat mungkin saja masih diberikan suatu izin.
dan semoga, mawar itu kugenggam, merawatnya dengan baik, bersenandung bersama, saling menghangatkan jiwa ditengah guyuran hujan.
-aku tak tahu apa yg aku tulis, terlalu buntu untukku melontarkan kata kata.entahlah, mungkin aku telah terbunuh oleh samurai bernama senyuman itu-
NB:surat ini tanpa tujuan
Thursday, 20 January 2011
day #7; Andai Detik itu Tidak Bergerak
Aku lelah akan rutinitas
Melakukan hal monoton berulang ulang
Menghantui setiap sudut otak
Hingga titik frustasi memeluk diri ini
Aku lelah harus terus berlari
Menjauh dari kejaran detik
Bangkit dari serpihan mimpi
Untuk sesuatu yg membosankan
Andai saja detik itu tidak bergerak, mungkin aku akan lebih menikmati hari hariku. Bermain di taman bunga bersama mereka. Sama sama memeluk erat pelangi di atas gumpalan awan, saling melempar tawa, dan tentu saja untuk secangkir kafein.
Andai saja detik itu tidak bergerak, aku akan lebih banyak menyajikan secangkir tawa dengan mu, sepiring snack berhiaskan senyuman.
Dan andai saja detik itu tidak bergerak, bersama kita kan duduk di jarumnya atas nama kebahagiaan tanpa bayang bayang setan rutinitas
Melakukan hal monoton berulang ulang
Menghantui setiap sudut otak
Hingga titik frustasi memeluk diri ini
Aku lelah harus terus berlari
Menjauh dari kejaran detik
Bangkit dari serpihan mimpi
Untuk sesuatu yg membosankan
Andai saja detik itu tidak bergerak, mungkin aku akan lebih menikmati hari hariku. Bermain di taman bunga bersama mereka. Sama sama memeluk erat pelangi di atas gumpalan awan, saling melempar tawa, dan tentu saja untuk secangkir kafein.
Andai saja detik itu tidak bergerak, aku akan lebih banyak menyajikan secangkir tawa dengan mu, sepiring snack berhiaskan senyuman.
Dan andai saja detik itu tidak bergerak, bersama kita kan duduk di jarumnya atas nama kebahagiaan tanpa bayang bayang setan rutinitas
Wednesday, 19 January 2011
day #6; Surat Singkat Untuk 2 Jiwa
Selamat malam, raungan sepi. Selamat bersenandung, jiwa yg mengambang di langit sana. Dan ucapan khusus melayang kepada kalian, 2 jiwa yg mungkin tlah tau apa maksud surat kali ini.
Entah kata apa yg pantas aku ukirkan atas apa yg telah lalu. Berawal dari accident, berlanjut bagai untaian rantai berparaskan mawar. Bersatu dalam hitungan jam, melupakan waktu dan terus berbagi suapan awan. Menari bersama, melantunkan tawa bernada kesenangan bersama. Tak pelak berbagi tetesan darah.
Sudahlah, aku enggan menambahkan warna merah di muka kalian. Semoga tetap saling bersama, tunggu, semoga saja kalian menginginkan sama dengan yg kuinginkan, dan kita menginginkan hal yg sama, dengan satu tujuan, kebersamaan.
Entah kata apa yg pantas aku ukirkan atas apa yg telah lalu. Berawal dari accident, berlanjut bagai untaian rantai berparaskan mawar. Bersatu dalam hitungan jam, melupakan waktu dan terus berbagi suapan awan. Menari bersama, melantunkan tawa bernada kesenangan bersama. Tak pelak berbagi tetesan darah.
Sudahlah, aku enggan menambahkan warna merah di muka kalian. Semoga tetap saling bersama, tunggu, semoga saja kalian menginginkan sama dengan yg kuinginkan, dan kita menginginkan hal yg sama, dengan satu tujuan, kebersamaan.
Tuesday, 18 January 2011
day #5 ; Bisikan 10 Tahun
Hai, jiwa dan ragaku 10 tahun yg akan datang.
Bagaimana kabar langit disana?
Apakah langit sekarang dengan langitmu disana sama indahnya?
Semoga langitmu jauh lebih menarik dari langit yg sekarang.
Aku tak bisa membayangkan dirimu disana
Dengan berantakanku sekarang, semoga kau lebih sigap
Apakah kau mencapai karir mu seperti yg kau impikan dulu?
Kuharap begitu,
Dan semoga kau telah menginjakkan kakimu di tanah hijau-putih-merah
Ohya, bagaimana dengan titik terang itu?
Titik terang yg kutulis di hari pertama,
Kuharap dia memang semenawan yg "kita" harapkan
Apakah dia datang dari masaku?atau masamu?
Yah, mungkin aku terlalu banyak bertanya kepada dirimu, tapi aku tak pelak selalu menyisipkan berbagai doa untukmu. Aku ingin kau membalas suratku ini, di masamu, dengan titik terang itu disampingmu, tentu dengan senyuman jiwa yg penuh kebahagiaan. Dan kuharap. Kusudahi surat ini, surat untuk 10 tahun yg akan datang, 18 January 2021
Bagaimana kabar langit disana?
Apakah langit sekarang dengan langitmu disana sama indahnya?
Semoga langitmu jauh lebih menarik dari langit yg sekarang.
Aku tak bisa membayangkan dirimu disana
Dengan berantakanku sekarang, semoga kau lebih sigap
Apakah kau mencapai karir mu seperti yg kau impikan dulu?
Kuharap begitu,
Dan semoga kau telah menginjakkan kakimu di tanah hijau-putih-merah
Ohya, bagaimana dengan titik terang itu?
Titik terang yg kutulis di hari pertama,
Kuharap dia memang semenawan yg "kita" harapkan
Apakah dia datang dari masaku?atau masamu?
Yah, mungkin aku terlalu banyak bertanya kepada dirimu, tapi aku tak pelak selalu menyisipkan berbagai doa untukmu. Aku ingin kau membalas suratku ini, di masamu, dengan titik terang itu disampingmu, tentu dengan senyuman jiwa yg penuh kebahagiaan. Dan kuharap. Kusudahi surat ini, surat untuk 10 tahun yg akan datang, 18 January 2021
Monday, 17 January 2011
day #4; Senandung Pesan Rindu
Selamat Pagi Senin
Selamat mengutuk hari
Selamat membuka semangat baru
Selamat bersenandung indah
Pagi, hujan, dingin, gelap
Di tengah ruangan kelas,
tanpa ada penerangan lampu
Aku, bersama rintikan hujan menyenandungkan rindu
Rindu sebuah kisah klasik kita
Aku, kau, dan juga mereka
Yang pernah saling bersama
Dan juga menenun kisah bersama
Apa kabar kalian saat ini?
Kalian yg dulu,
saling satu tujuan denganku
Kalian yg mungkin sama rasanya denganku
Aku hanya mampu menulis pesan rindu yg singkat kepada kalian, kalian yg bersama menulis sebuah kisah denganku. Bersama rintikan hujan, aku senandungkan kerinduan kepada kalian, atau mungkin kau, yg datang kembali di layarku. Selamat beraktivitas, dalam naungan rindu.
Selamat mengutuk hari
Selamat membuka semangat baru
Selamat bersenandung indah
Pagi, hujan, dingin, gelap
Di tengah ruangan kelas,
tanpa ada penerangan lampu
Aku, bersama rintikan hujan menyenandungkan rindu
Rindu sebuah kisah klasik kita
Aku, kau, dan juga mereka
Yang pernah saling bersama
Dan juga menenun kisah bersama
Apa kabar kalian saat ini?
Kalian yg dulu,
saling satu tujuan denganku
Kalian yg mungkin sama rasanya denganku
Aku hanya mampu menulis pesan rindu yg singkat kepada kalian, kalian yg bersama menulis sebuah kisah denganku. Bersama rintikan hujan, aku senandungkan kerinduan kepada kalian, atau mungkin kau, yg datang kembali di layarku. Selamat beraktivitas, dalam naungan rindu.
Subscribe to:
Posts (Atom)